Lexora.id – Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, kematian tidak selalu berarti akhir. Dalam keyakinan dan tradisi masyarakat setempat, seseorang yang wafat belum sepenuhnya dianggap meninggalkan dunia sampai rangkaian ritual adat tertentu dilaksanakan. Salah satu ritual yang paling dikenal adalah Rambu Solo, upacara pemakaman adat Toraja yang selama berabad-abad menjadi penanda penghormatan terakhir kepada leluhur sekaligus cerminan status sosial keluarga.
Namun, bagaimana nasib tradisi itu ketika berhadapan dengan dunia modern yang menuntut efisiensi, rasionalitas, dan kemampuan ekonomi yang semakin terbatas?
Pertanyaan tersebut menjadi pusat pembahasan dalam penelitian “Rambu Solo dalam Cerpen Ambe Masih Sakit: Kajian Antropologi Sastra” yang ditulis Guntur Sekti Wijaya dari UIN Sunan Ampel Surabaya dan diterbitkan dalam BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Volume 10 Nomor 2, September 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi sastra untuk membaca cerpen Ambe Masih Sakit karya Emil Amir sebagai cermin dinamika budaya masyarakat Toraja di tengah perubahan zaman.
Berbeda dari banyak kajian sebelumnya yang lebih fokus pada simbol dan struktur ritual, penelitian ini menyoroti benturan antara generasi tua yang berusaha mempertahankan tradisi dan generasi muda yang mulai mempertanyakan relevansi serta beban sosial-ekonomi dari pelaksanaan Rambu Solo.
Ketika Kematian Menjadi Urusan Komunitas
Dalam masyarakat modern, kematian umumnya dipahami sebagai peristiwa personal yang dikelola keluarga inti. Di Toraja, pemahaman itu berbeda.
Rambu Solo tidak hanya melibatkan keluarga, tetapi juga seluruh jaringan kekerabatan dan komunitas. Upacara ini menjadi ruang sosial tempat identitas keluarga, solidaritas masyarakat, hingga struktur status sosial dipertontonkan sekaligus diteguhkan. Penelitian Wijaya menjelaskan bahwa ritual tersebut merupakan manifestasi hubungan manusia dengan dunia spiritual sekaligus cerminan organisasi sosial masyarakat Toraja yang diwariskan turun-temurun.
Karena itulah, kematian dalam budaya Toraja tidak diperlakukan sebagai peristiwa yang harus segera dituntaskan. Dalam sejumlah kasus, jenazah bahkan dapat disimpan selama bertahun-tahun sambil menunggu kesiapan keluarga menggelar Rambu Solo yang layak.
Di dalam cerpen Ambe Masih Sakit, tokoh Ambe digambarkan telah meninggal hampir satu dekade. Namun keluarganya belum mampu melaksanakan upacara adat karena keterbatasan biaya. Dalam pandangan adat, kondisi itu membuat Ambe belum benar-benar dianggap meninggal, melainkan masih berada dalam status to makula, yakni orang yang “masih sakit” dan menunggu penghantaran menuju alam baka.
Di sinilah sastra membuka ruang yang jarang terlihat oleh pembaca luar. Kematian bukan sekadar kehilangan, melainkan proses sosial yang panjang, penuh negosiasi, dan sering kali mengandung beban ekonomi yang besar.
Puya dan Cara Orang Toraja Memaknai Kematian
Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah bagaimana cerpen menghadirkan konsep Puya, alam kehidupan setelah kematian dalam kepercayaan Toraja.
Dalam narasi cerpen, alam baka digambarkan bukan sebagai ruang yang menakutkan, melainkan tempat kembali yang damai. Roh-roh leluhur hidup berdampingan dengan alam, bernaung di pohon-pohon suaka, dan menjadi bagian dari keteraturan kosmos. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kematian dipahami sebagai perjalanan, bukan penghentian eksistensi manusia.
Penelitian Wijaya menafsirkan pandangan ini sebagai representasi spiritualitas masyarakat Toraja yang memandang manusia sebagai peziarah. Setelah meninggalkan dunia, jiwa masih harus melanjutkan perjalanan menuju Puya. Karena itu, ritual pemakaman menjadi sarana penting untuk memastikan perjalanan tersebut berlangsung dengan baik.
Pemahaman ini menjelaskan mengapa Rambu Solo memiliki posisi yang sangat penting. Upacara tersebut tidak hanya menjadi penghormatan kepada orang yang meninggal, tetapi juga bagian dari kewajiban moral keluarga terhadap leluhur.
Ketika Tradisi Berhadapan dengan Realitas
Meski sarat makna spiritual, pelaksanaan Rambu Solo sering kali memerlukan biaya yang sangat besar.
Dalam cerpen, konflik muncul ketika tokoh Upta mempertanyakan tuntutan adat yang mewajibkan penyembelihan tedong bonga, kerbau belang khas Toraja yang nilainya dapat mencapai ratusan juta rupiah. Sang ibu menolak gagasan menyederhanakan ritual karena menganggapnya sebagai bentuk pengabaian terhadap martabat keluarga dan penghormatan kepada leluhur.
Bagi generasi tua, ritual yang lengkap merupakan kewajiban moral. Namun bagi generasi muda, tuntutan itu sering kali terasa tidak realistis.
Penelitian ini melihat konflik tersebut sebagai gambaran perubahan nilai budaya yang sedang berlangsung. Generasi muda cenderung menempatkan rasionalitas dan kemampuan ekonomi sebagai pertimbangan utama dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, generasi tua masih memandang adat sebagai landasan kehidupan yang tidak dapat dinegosiasikan.
Benturan dua cara pandang itu bukan semata persoalan keluarga dalam cerpen, melainkan fenomena yang lebih luas di berbagai masyarakat tradisional yang sedang menghadapi modernisasi.
Globalisasi dan Ancaman terhadap Warisan Budaya
Penelitian Wijaya menyoroti bahwa globalisasi telah mengubah cara generasi muda memandang tradisi.
Kehidupan yang semakin cepat, tuntutan ekonomi, mobilitas sosial, dan paparan budaya global membuat sebagian generasi muda mulai mempertanyakan relevansi ritual adat yang memakan waktu panjang dan biaya besar. Upacara-upacara tradisional yang dahulu dianggap sakral perlahan dipandang sebagai beban.
Rambu Solo menjadi salah satu tradisi yang menghadapi tantangan tersebut.
Padahal, menurut penelitian ini, ritual tersebut tidak hanya menyangkut urusan spiritual. Ia juga berfungsi menjaga solidaritas sosial, memperkuat hubungan kekerabatan, serta mempertahankan identitas budaya masyarakat Toraja. Kehilangannya bukan sekadar hilangnya sebuah upacara, melainkan hilangnya cara pandang terhadap kehidupan dan kematian yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan bentuk ritual, melainkan menemukan cara agar tradisi tetap hidup tanpa menjadi beban yang mustahil dipikul generasi penerus.
Sastra sebagai Arsip Kebudayaan
Bagi Wijaya, cerpen Ambe Masih Sakit menunjukkan bahwa sastra memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan.
Melalui cerita, pembaca diajak memahami kompleksitas budaya Toraja, mulai dari cara memandang kematian, penghormatan kepada leluhur, struktur sosial, hingga konflik yang muncul ketika tradisi bertemu modernitas. Sastra menjadi ruang refleksi yang memungkinkan pembaca melihat bagaimana sebuah masyarakat berusaha menjaga identitasnya di tengah perubahan dunia.
Lebih jauh lagi, penelitian ini menyimpulkan bahwa Rambu Solo bukan sekadar ritual pemakaman. Ia adalah simbol hubungan manusia dengan leluhur, masyarakat dengan identitasnya, serta masa lalu dengan masa depan. Konflik yang muncul dalam cerpen menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berjalan mulus. Ada pertarungan gagasan, pertimbangan ekonomi, dan perubahan nilai yang harus dihadapi.
Namun justru di titik itulah tradisi menemukan ujian terbesarnya: apakah ia mampu beradaptasi tanpa kehilangan makna.
Ketika dunia bergerak semakin cepat, pertanyaan itu menjadi relevan bukan hanya bagi masyarakat Toraja, tetapi bagi seluruh kebudayaan lokal yang sedang mencari cara bertahan di tengah arus zaman.

