Lexora.id – Di tengah laju modernitas yang sering memisahkan manusia dari alam, sejumlah komunitas adat di Nusantara masih memelihara cara pandang yang berbeda. Bagi mereka, tanah bukan sekadar ruang produksi, panen bukan hanya hasil kerja, dan ritual bukan sekadar warisan masa lalu. Alam, manusia, leluhur, dan Tuhan berada dalam satu jalinan hubungan yang saling terhubung.
Pandangan inilah yang masih hidup dalam tradisi Naik Dango masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat. Selama ini Naik Dango kerap dipahami sebagai pesta panen tahunan. Namun sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa maknanya jauh melampaui perayaan hasil pertanian. Di balik rangkaian ritual, tarian, musik, dan simbol-simbol adat, tersimpan pemahaman mendalam tentang eksistensi manusia dan hubungannya dengan Yang Transenden.
Temuan tersebut dipaparkan oleh Fernando Ersa Widodo dan Armada Riyanto dalam artikel ilmiah berjudul “Tradisi Naik Dango Suku Dayak Kanayatn sebagai Manifestasi Chiffer Transendensi Karl Jaspers” yang dimuat dalam Jurnal Budaya Nusantara, Volume 6 Nomor 3, Maret 2024, halaman 324–335. Penelitian ini tidak hanya membaca Naik Dango sebagai fenomena budaya, tetapi juga sebagai bahasa spiritual yang mempertemukan manusia dengan realitas yang lebih tinggi.
Bagi masyarakat Dayak Kanayatn, Naik Dango merupakan ungkapan syukur atas panen yang telah diterima sekaligus permohonan petunjuk untuk musim berladang berikutnya. Tradisi ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun dan menjadi salah satu perayaan budaya terpenting dalam kehidupan masyarakat. Akan tetapi, menurut penelitian tersebut, memahami Naik Dango hanya sebagai pesta panen berarti mengabaikan lapisan makna yang lebih dalam.
Dalam tradisi ini, masyarakat tidak sekadar merayakan keberhasilan pertanian. Mereka sedang menegaskan kembali hubungan yang dianggap fundamental dalam kehidupan: hubungan dengan leluhur, hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan Jubata, sosok pencipta yang diyakini sebagai sumber kehidupan.
Penelitian Widodo dan Riyanto menggunakan pendekatan filsafat eksistensial Karl Jaspers untuk membaca makna tersebut. Dalam pemikiran Jaspers, manusia tidak dapat memahami realitas tertinggi secara langsung. Yang transenden hanya dapat didekati melalui simbol-simbol, tanda-tanda, atau apa yang disebut sebagai chiffer. Simbol-simbol inilah yang membantu manusia memahami keberadaan sesuatu yang melampaui batas pengetahuan rasional.
Melalui perspektif tersebut, Naik Dango dipahami sebagai bahasa simbolik masyarakat Dayak Kanayatn dalam berjumpa dengan Yang Ilahi. Ritual, musik tradisional, tarian, sesaji, dan berbagai elemen adat bukan sekadar ornamen budaya. Semuanya menjadi sarana yang memungkinkan manusia memasuki pengalaman spiritual yang lebih mendalam.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa masyarakat Dayak Kanayatn memandang Jubata sebagai Sang Pencipta, pemelihara kehidupan, sekaligus sumber segala sesuatu yang ada di alam semesta. Keyakinan ini membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Alam tidak dilihat sebagai objek yang bebas dieksploitasi, melainkan sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang harus dihormati.
Karena itu, Naik Dango tidak hanya berbicara tentang hasil panen yang melimpah. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan manusia tidak berdiri sendiri. Ada keterlibatan alam, ada peran leluhur, dan ada campur tangan kekuatan yang lebih tinggi yang diyakini hadir dalam kehidupan sehari-hari. Melalui ritual tersebut, masyarakat diajak untuk menyadari kembali keterbatasan manusia sekaligus mensyukuri anugerah yang diterimanya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran spiritual tersebut membentuk etika ekologis yang kuat. Ketika alam dipandang sebagai bagian dari ciptaan Jubata, maka hubungan manusia dengan lingkungan tidak lagi bersifat eksploitatif. Manusia dituntut untuk menjaga keseimbangan dan menghormati alam sebagai ruang kehidupan bersama.
Pandangan semacam ini menjadi menarik untuk dibaca dalam konteks krisis lingkungan global saat ini. Di banyak tempat, kerusakan ekosistem terjadi karena alam direduksi menjadi sumber daya ekonomi semata. Sebaliknya, dalam tradisi Naik Dango, alam ditempatkan sebagai bagian dari relasi spiritual yang lebih luas. Menghormati alam berarti menghormati tatanan kehidupan itu sendiri.
Lebih jauh, penelitian tersebut menegaskan bahwa simbol-simbol dalam Naik Dango tidak boleh dipahami secara dangkal. Simbol bukan sekadar benda atau tindakan ritual. Ia adalah media komunikasi antara manusia dengan sesuatu yang melampaui dirinya. Dalam kerangka Jaspers, simbol menjadi jembatan yang memungkinkan manusia menyentuh realitas transenden yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh akal budi.
Di sinilah letak kekuatan tradisi tersebut. Naik Dango bukan sekadar peristiwa budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia merupakan ruang tempat masyarakat Dayak Kanayatn membangun kesadaran eksistensialnya. Melalui ritual itu, manusia diajak memahami siapa dirinya, dari mana kehidupannya berasal, dan kepada siapa rasa syukur harus diarahkan.
Penelitian Widodo dan Riyanto menunjukkan bahwa masyarakat Dayak Kanayatn tidak memisahkan spiritualitas dari kehidupan sehari-hari. Aktivitas berladang, panen, hubungan sosial, dan praktik keagamaan terjalin dalam satu kesatuan makna. Karena itu, Naik Dango menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia adalah cara masyarakat membaca dunia.
Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan bahwa budaya tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga cara berpikir. Di tengah masyarakat modern yang semakin rasional dan serba cepat, tradisi seperti Naik Dango menghadirkan perspektif lain tentang kehidupan. Ia menawarkan pandangan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada alam yang menopang, ada leluhur yang dihormati, ada komunitas yang dirawat, dan ada Yang Transenden yang menjadi sumber makna.
Dalam kesimpulannya, penelitian tersebut menegaskan bahwa Naik Dango merupakan manifestasi chiffer transendensi dalam pemikiran Karl Jaspers. Tradisi ini menjadi bahasa simbolik yang memungkinkan masyarakat Dayak Kanayatn berhadapan dengan Jubata sebagai realitas tertinggi dalam kehidupan mereka. Melalui simbol-simbol itulah kesadaran eksistensial, penghormatan terhadap alam, dan pengalaman spiritual terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


