Lexora.id – Sebuah studi wacana kritis mengupas secara mendalam pidato pelantikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024. Penelitian yang dilakukan oleh Puji Hariati dari Universitas Pembinaan Masyarakat Indonesia dan Purwarno dari Universitas Islam Sumatera Utara ini menunjukkan bagaimana Prabowo menyusun pidato kenegaraan dengan retorika yang kuat, penuh muatan ideologis, dan dirancang untuk membangun narasi kebangsaan yang inklusif namun tegas.
Artikel ini dipublikasikan dalam Journal of Applied Linguistics and Literature (JOALL) Volume 10, Nomor 1, Februari 2025 dengan judul Ideological Rhetoric: A Critical Discourse Analysis of Prabowo’s First Inauguration Speech (DOI: 10.33369/joall.v10i1.37663).
Dengan menggunakan pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA), penulis menganalisis pidato Prabowo melalui tiga aspek retorika Aristoteles—ethos, pathos, dan logos—yang masing-masing menempati porsi seimbang: 30 persen ethos, 30 persen pathos, dan 40 persen logos. Hasilnya menunjukkan bahwa pidato ini bukan hanya bentuk seremonial kekuasaan, tetapi sarana penyampaian ideologi dan strategi membentuk identitas nasional.
Prabowo memperkuat ethos (kredibilitas) melalui gagasan hilirisasi komoditas nasional sebagai kunci kesejahteraan rakyat, sekaligus menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang berpihak pada kemandirian ekonomi.
Dalam aspek pathos (emosi), ia mengajak rakyat merasakan dan menyadari masalah nyata: kemiskinan, gizi buruk, pengangguran, dan sekolah rusak—dengan nada retoris yang menantang dan menyentuh. “Apakah kita sadar bahwa rakyat kita dan anak-anak kita banyak yang kurang gizi?” serunya dalam pidato, seperti dikutip dalam studi tersebut.
Sementara itu, logos (logika) tampil dalam paparan fakta ekonomi: “Kita merasa bangga bahwa kita disebut ekonomi ke-16 terbesar di dunia.” Klaim ini digunakan untuk membangun argumen tentang kekuatan potensial Indonesia yang belum diolah secara maksimal demi rakyatnya.
Peneliti menyimpulkan bahwa strategi ini membentuk logika naratif bahwa kebangkitan Indonesia hanya mungkin jika dipimpin oleh pemerintahan yang menjunjung kedaulatan, keadilan, dan pemerataan.
Aspek ideologis pidato Prabowo teridentifikasi dalam tema-tema utama seperti kedaulatan nasional, keadilan sosial, semangat gotong royong, serta keberpihakan pada wong cilik. Ia menyebut, “Pengorbanan yang paling besar adalah pengorbanan dari rakyat kita yang paling miskin, wong cilik yang berjuang.” Pujian ini ditujukan untuk mereka yang selama ini kerap terpinggirkan dalam sistem ekonomi-politik nasional, sekaligus menjadi penanda gaya populisme Prabowo.
Seruan untuk “menghentikan dendam, hilangkan kebencian, bangun kerukunan, bangun gotong royong” dibaca peneliti sebagai upaya menyatukan kelompok-kelompok yang selama masa kampanye sempat terbelah, dan sebagai refleksi dari nilai-nilai sosial budaya Indonesia yang ingin dihidupkan kembali dalam visi politik nasionalis Prabowo.
Studi ini menyimpulkan bahwa pidato pelantikan Prabowo berfungsi lebih dari sekadar menyampaikan program kerja. Ia menjadi perangkat ideologis untuk menyatukan rakyat dalam satu identitas kolektif—Indonesia yang kuat, adil, mandiri, dan penuh semangat kebangsaan.
Retorika Prabowo, menurut peneliti, mampu menciptakan narasi yang mengajak publik untuk turut serta membangun masa depan, sekaligus menegaskan posisi kepemimpinan yang berpihak pada rakyat kecil dan menolak dominasi asing.


