Mengurai Sebab-Akibat dalam Bahasa Melayu Langkat: Studi Baru Ungkap Ragam Konstruksi Kausatif

lexora.id By lexora.id
4 Min Read

Lexora.id

Bahasa Melayu Langkat, sebagai salah satu varian penting dalam rumpun bahasa Melayu, memiliki kekayaan gramatikal yang khas, termasuk dalam hal menyatakan hubungan sebab-akibat atau konstruksi kausatif. Sebuah studi linguistik terbaru yang dipublikasikan dalam Lingua: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya edisi Januari 2023 mendalami bagaimana konstruksi kausatif dibentuk dalam bahasa ini, baik secara analitik, morfologis, maupun leksikal.

Penelitian ini dilakukan oleh Mifta Huljannah Maharani dan Mulyadi dari Universitas Sumatera Utara, dengan menggunakan pendekatan tipologi linguistik dan data yang dikumpulkan dari penutur asli di Kota Stabat, Kabupaten Langkat.

Konstruksi kausatif sendiri merujuk pada bentuk kalimat yang menyatakan bahwa suatu tindakan atau keadaan terjadi sebagai akibat dari tindakan agen lain. Dalam kajian ini, para peneliti mengidentifikasi tiga jenis konstruksi utama dalam bahasa Melayu Langkat.

Pertama adalah kausatif analitik, yang dicirikan dengan penggunaan verba bantu seperti mbuatuntuk menyatakan hubungan sebab-akibat secara eksplisit. Misalnya dalam kalimat “Abang mbuat adek jatoh,” terdapat dua peristiwa yang dijelaskan secara terpisah: tindakan “membuat” dan akibat “jatuh.”

Jenis kedua adalah kausatif morfologis, yaitu ketika verba utama dimodifikasi dengan afiks (imbuhan) untuk menyampaikan makna kausatif. Contohnya adalah kata njatohka (menjatuhkan) yang menyiratkan tindakan penyebab dan akibat secara implisit. Dalam struktur ini, perubahan bentuk kata kerja melalui afiksasi memperluas valensi kalimat, yakni menambah argumen penyebab yang tidak terdapat dalam bentuk intransitifnya.

Sementara itu, kausatif leksikal merupakan konstruksi yang ditandai oleh keberadaan verba tertentu yang secara semantik sudah memuat makna sebab-akibat, seperti sorong (mendorong), mbunoh (membunuh), atau manggel (memanggil).

Dalam kalimat seperti “Abah manggel mak,” tidak secara eksplisit disebutkan bahwa ibu datang, namun makna itu dapat ditafsirkan secara implisit karena telah terkandung dalam verba manggel itu sendiri. Artinya, satu kata kerja dapat merepresentasikan dua kejadian sekaligus—penyebab dan akibat—tanpa harus merinci keduanya secara eksplisit.

Penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi bentuk-bentuk konstruksi, tetapi juga menyusun kategori verba yang lazim digunakan untuk masing-masing tipe. Untuk kausatif morfologis, verba seperti matika, matahka, ndatangke, dan mecahkamerupakan hasil dari afiksasi pada verba dasar. Sedangkan dalam kausatif leksikal, ditemukan penggunaan verba sehari-hari yang padat makna seperti motong, menghempaska, dan sorong.

Temuan ini memperlihatkan bahwa bahasa Melayu Langkat memiliki sistem yang produktif dan kompleks dalam menyatakan hubungan kausalitas, tidak kalah dibandingkan bahasa-bahasa daerah lain yang telah lebih dahulu diteliti seperti Batak Toba, Mandailing, atau Aceh.

Para peneliti juga menekankan bahwa konstruksi ini mencerminkan dinamika gramatikal yang terus hidup di tengah komunitas penuturnya, sekaligus menunjukkan bahwa studi bahasa daerah seperti ini penting untuk mempertahankan warisan linguistik dan memperkaya kajian tipologi bahasa Nusantara.

Lebih dari sekadar kategori sintaksis, studi ini menunjukkan bahwa cara masyarakat Melayu Langkat menuturkan peristiwa sebab-akibat mencerminkan cara berpikir dan cara memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensinya. Dalam praktiknya, pemilihan verba dan bentuk kausatif sangat bergantung pada intensi penutur dan konteks komunikasi, menjadikan kausatif tidak hanya sebagai isu kebahasaan tetapi juga sebagai cerminan budaya tutur.

Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan tipologi dalam kajian kausatif mampu mengungkap keragaman struktur kalimat dalam bahasa daerah dan memperlihatkan kesamaan serta kekhasan di antara bahasa-bahasa yang ada di Indonesia. Bahasa Melayu Langkat, melalui hasil studi ini, terbukti memiliki potensi besar untuk terus dikaji, terutama dalam konteks revitalisasi bahasa daerah dan dokumentasi sistem gramatikal lokal yang mulai tergerus arus dominasi bahasa nasional dan global.