Menemukan Stray Kids dalam Arus Informasi yang Tak Pernah Diam

lexora.id By lexora.id
4 Min Read

Lexora.id – Di balik hiruk pikuk fandom K-pop yang kian masif di media sosial, penelitian terbaru menunjukkan bagaimana penggemar Stray Kids — yang tergabung dalam komunitas STAY — membentuk pola pencarian informasi yang aktif, intens, dan kompleks di Twitter. Studi ini menjadi cerminan perubahan budaya informasi generasi muda Indonesia dalam ekosistem digital.

Penelitian berjudul “Perilaku Pencarian Informasi Stray Kids (K-Pop) oleh Kelompok Penggemar melalui Twitter”ditulis oleh Hanifah Basirah Azizah Fahimah dan diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan dan KearsipanVolume 27, Nomor 1, Tahun 2025 oleh UI Scholars Hub. Artikel tersebut dapat diakses melalui laman https://scholarhub.ui.ac.id/jipk/vol27/iss1/5.

Menggunakan kerangka teori Wilson (1996), studi ini membedah lima aspek utama yang membentuk perilaku pencarian informasi para penggemar, yakni konteks kebutuhan informasi, tekanan psikologis, variabel intervensi (psikologis, demografis, sosial, lingkungan, dan karakteristik sumber), mekanisme aktivasi, dan bentuk perilaku pencarian.

Dari sembilan informan yang diwawancarai — mayoritas perempuan berusia 19 hingga 25 tahun — ditemukan bahwa proses pencarian informasi di Twitter bukan sekadar aktivitas pasif. Sebaliknya, pencarian tersebut terjadi dalam pola ongoing search, yakni pencarian sadar dan berulang setiap hari. Para penggemar secara aktif memanfaatkan fitur-fitur seperti pin tweet, notifikasi langsung, retweet, dan komunitas untuk mendapatkan kabar terbaru tentang Stray Kids, mulai dari jadwal rilis lagu hingga unggahan pribadi para anggota.

Dalam prosesnya, Twitter menjadi media pilihan utama karena dianggap lebih cepat dan luas dibandingkan platform lain. “Twitter buat update-an K-pop lebih cepet daripada media sosial yang lainnya,” kata salah satu informan dalam wawancara.

Tak hanya karena kecepatan informasi, faktor psikologis juga memainkan peran penting. Beberapa penggemar mengakui bahwa membuka Twitter dan melihat konten Stray Kids menjadi pelarian dari stres dan kejenuhan sehari-hari. “Sebagai safe place aku. Liat foto/video yang lewat di timeline jadi agak mengurangi stres,” ungkap informan lainnya.

Lingkungan sosial juga memengaruhi perilaku informasi ini. Memiliki teman se-fandom membuat arus informasi menjadi lebih cepat tersebar dan mendalam. Bahkan dalam situasi ketika artis kesayangan mereka mendapat ujaran kebencian (hate speech), para penggemar kompak melakukan tindakan report hingga menciptakan narasi tandingan untuk menjaga reputasi idolanya.

Model Wilson yang dipakai dalam studi ini memungkinkan pemetaan yang menyeluruh terhadap perilaku informasi. Mulai dari pencetus awal (motivasi intrinsik, tekanan sosial), hambatan, hingga keuntungan yang dirasakan setelah menyebarkan informasi. Salah satunya adalah penguatan koneksi antaranggota fandom serta pengakuan sosial sebagai penggemar yang “update”.

Temuan penelitian ini juga menegaskan pentingnya literasi digital dalam komunitas fandom. Meski mayoritas informan memiliki pendidikan tinggi dan mampu memilah informasi akurat, tantangan tetap ada dalam membedakan hoaks dan rumor. Penggunaan akun anonim (cyber) oleh para penggemar memperlihatkan bagaimana batas antara ruang privat dan publik semakin kabur di media sosial.

Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap studi literasi informasi digital, khususnya dalam konteks budaya populer Korea Selatan di Indonesia. Dengan mengamati perilaku STAY — sebutan untuk penggemar Stray Kids — kita bisa memahami bagaimana informasi dikonsumsi, diolah, dan disebarluaskan dalam ruang virtual yang hiperaktif dan kompetitif.

Lebih jauh, studi ini juga menjadi pengingat bahwa dalam ekosistem media sosial hari ini, pencarian informasi bukan hanya tindakan teknis, melainkan proses emosional, sosial, dan bahkan ideologis yang berkelindan dengan identitas dan solidaritas.