Lexora.id – Selama berabad-abad, Rahwana hanya dikenal dari satu sisi: antagonis, rakus kuasa, penculik Sinta, raja bengis Ngalengka yang menghadang Rama. Namun melalui novel Rahwana: Kisah Rahasia karya Anand Neelakantan, tokoh ini dihidupkan kembali dengan warna berbeda. Bukan semata demi membela yang tertuduh, melainkan untuk menggugat pola pikir biner—baik versus jahat, dewa versus raksasa, protagonis versus antagonis—yang terlalu lama membekukan pemahaman kita tentang karakter manusia dalam karya sastra.
Kajian terbaru oleh Vistaria Kusuma Wardani dan Sulis Triyono dari Universitas Negeri Yogyakarta memanfaatkan teori dekonstruksi Jacques Derrida untuk membongkar ulang representasi Rahwana, dan memunculkan wajahnya yang selama ini tersembunyi.
Penelitian ini dipublikasikan dalam Poetika: Jurnal Ilmu Sastra Vol. 12, No. 2, Oktober 2024. Dalam laporannya, penulis memaparkan bagaimana Neelakantan secara sistematis membalik persepsi publik terhadap Rahwana: dari sosok haus kuasa dan biang kehancuran, menjadi figur yang penuh kasih, religius, adil, bahkan pesimistis terhadap takdirnya sendiri.
Dalam pendekatan Derrida, dekonstruksi bukan berarti menghancurkan makna, tetapi mengungkap lapisan-lapisan makna lain yang selama ini tertindas oleh tafsir dominan. Rahwana, dalam kerangka ini, bukan sekadar tokoh, melainkan medan tafsir yang cair.
Novel ini tidak menghapus sisi gelap Rahwana. Ia tetap digambarkan sebagai tokoh kejam—menendang kepala musuhnya, memancung raja Ayodhya, menghina kaum Brahmana. Tapi di balik itu, muncullah adegan-adegan yang memperlihatkan air matanya ketika memeluk adik-adiknya, kepeduliannya pada rakyat, dan keyakinannya pada Dewa Siwa yang dijadikannya pelindung pribadi.
Lebih jauh, cinta Rahwana terhadap Sinta tidak lagi dibaca sebagai hasrat kepemilikan, tapi sebagai kasih ayah kepada anak yang terasing. Dalam tradisi Jain, yang juga diacu dalam novel ini, Sinta memang digambarkan sebagai anak kandung Rahwana. Perspektif ini mengguncang struktur naratif lama—dan mengundang pembaca untuk meninjau ulang siapa sebenarnya korban, siapa penjahat, dan siapa yang disalahpahami.
Dengan metode deskriptif kualitatif, Wardani dan Triyono memetakan karakter Rahwana dalam dua kerangka makna: makna awal (konvensional) dan makna dekonstruktif. Dalam narasi awal, Rahwana tampil sebagai sosok yang brutal, arogan, melawan tatanan ilahi, dan ambisius. Tetapi lewat teknik dekonstruksi, narasi itu tidak dibatalkan, melainkan digeser.
Rahwana juga adalah pribadi yang penuh kasih, percaya pada Tuhan, adil pada rakyatnya, dan rapuh dalam kesendiriannya. Ia membuat ramuan obat untuk anak-anak, menulis ilmu bintang di daun lontar, membenci kasta karena trauma diskriminatif, dan menginginkan pemerintahan yang merata. Puncaknya, ia merasa gagal sebagai raja, bahkan menyebut dirinya “raja tak berguna yang menyeret rakyat ke jurang kehancuran.”
Teori Derrida memungkinkan pembacaan ulang terhadap konsep tokoh dalam sastra. Dekonstruksi membongkar oposisi biner—baik versus jahat—dan menunjukkan bahwa dalam setiap protagonis ada sisi antagonistik, dan sebaliknya. Rahwana, dengan sepuluh kepalanya yang masing-masing melambangkan emosi manusia (marah, cinta, takut, bijak, dan lainnya), menjadi simbol kompleksitas manusia modern.
Kita semua, seolah diingatkan, adalah makhluk dengan wajah ganda. Novel ini, dan penelitian atasnya, menolak generalisasi karakter. Ia mendidik kita bahwa bahkan demonisasi bisa lahir dari narasi dominan yang tak terbantah selama ribuan tahun.
Penelitian ini penting karena bukan hanya menyentuh aspek sastra dan mitologi, tetapi juga etika tafsir. Ia mengajak pembaca untuk berani menantang narasi yang mapan, menyelidiki ruang abu-abu dalam karakter, dan menerima kenyataan bahwa identitas tokoh sastra (dan manusia) adalah hasil tarik-menarik sejarah, kuasa, dan ideologi. Dalam dunia yang semakin menuntut ketegasan posisi—siapa yang jahat, siapa yang benar—Rahwana: Kisah Rahasia hadir untuk mengatakan bahwa tak ada yang absolut.
Dengan memadukan pendekatan akademik dan empati sastra, Vistaria Kusuma Wardani dan Sulis Triyono menghadirkan satu pembacaan yang reflektif sekaligus membuka kemungkinan baru dalam kajian tokoh klasik. Di tangan Neelakantan dan para peneliti ini, Rahwana menjadi bukan hanya tokoh dalam epos, tapi simbol perlawanan terhadap pembekuan tafsir. Ia bukan sekadar Raja Ngalengka. Ia adalah kita—yang terus bertarung antara kekuasaan dan cinta, antara harga diri dan kehancuran, antara kenyataan dan kisah yang diwariskan.


