Lexora.id – Di tengah kekacauan visual dan wacana hiperpolitik yang membanjiri layar dewasa, sebuah buku anak bergambar berjudul Eliyas Explains What’s Going On in Palestine justru menawarkan sesuatu yang lebih mendalam: narasi tentang konflik, penjajahan, dan ketidakadilan yang dituturkan dari sudut pandang anak-anak.
Buku karya Zanib Mian ini, yang diterbitkan dan didistribusikan secara gratis untuk menjangkau seluas mungkin pembaca usia dini, menjadi objek kajian mendalam dalam penelitian yang diterbitkan dalam Poetika: Jurnal Ilmu Sastra Vol. 12, No. 2, Oktober 2024.
Dalam artikel berjudul Radical Issues in Children’s Narratives on Eliyas Explains What’s Going On in Palestine, Haikal Riza, Fitra Mutiara Setiani Arifin, dan Cheriel Louange Amelanda membongkar secara kritis struktur naratif dan dimensi ideologis buku ini. Mereka memanfaatkan pendekatan naratologi Gérard Genette serta teori Radical Children’s Literaturedari Kimberley Reynolds untuk menelisik bagaimana narasi tentang Palestina dibentuk bukan hanya sebagai cerita, tetapi juga sebagai ajakan untuk melihat dunia dari cara pandang yang belum mapan dalam buku anak-anak: bahwa anak juga mampu memahami dan merasakan ketidakadilan.
Narasi dalam buku ini dikisahkan melalui sudut pandang Eliyas, seorang anak yang penasaran dan gelisah melihat dunia orang dewasa di sekitarnya yang ramai memperbincangkan Palestina. Pilihan naratif ini disebut para peneliti sebagai bentuk autodiegetic narrator, yakni narator yang juga merupakan pelaku utama cerita. Teknik ini memungkinkan pengalaman personal Eliyas terasa otentik, emosional, dan membumi. Dengan demikian, pembaca anak tidak merasa sedang didikte oleh narator dewasa yang jauh dan ‘lebih tahu’, tetapi diajak untuk turut merasa, bertanya, dan berpikir melalui perspektif sebaya.
Eliyas bertanya: apakah ini soal Yahudi melawan Muslim? Apakah Palestina hanya milik satu agama? Lalu, narasi berkembang melalui dialog bersama orang tuanya, yang menjelaskan bahwa ini bukan perang agama, melainkan bentuk penjajahan yang telah dikutuk secara luas, termasuk oleh tokoh Yahudi sendiri.
Keberanian menghadirkan isu-isu seperti okupasi ilegal, apartheid, dan bahkan kutipan Nelson Mandela, menjadi bukti bahwa buku ini tidak ragu menggugah kesadaran kritis anak tentang politik global. Peneliti menyebut pendekatan ini sebagai upaya membangun kesadaran radikal, bukan dalam arti ekstrem, melainkan dalam arti membongkar akar persoalan.
Lebih lanjut, penelitian ini menyoroti bahwa buku ini tidak semata menyampaikan fakta sejarah atau opini politik, tapi juga melakukan kerja estetik yang sangat khas sastra anak: menyandingkan ilustrasi lembut dan narasi lugas dalam satu kesatuan halaman.
Justru dari kesatuan itu, lahir ketegangan kreatif antara dunia anak yang lugu dan kenyataan dunia yang getir. Dengan memperlihatkan tangisan anak Palestina, permainan yang terganggu oleh serangan udara, hingga ajakan Eliyas untuk mendoakan dan membantu korban, buku ini memperluas empati pembaca kecil tanpa membuat mereka terjerumus pada trauma.
Riza dan rekan peneliti lain mencatat bahwa kekuatan buku ini juga terletak pada keberaniannya menolak gagasan klasik anak sebagai “kertas putih” seperti yang dikemukakan John Locke. Dalam pandangan yang lebih progresif, anak dipahami sebagai subjek aktif yang mampu merenungkan dunia dan memiliki gagasan moral yang berkembang jika diberi ruang. Eliyas Explains justru menghadirkan ruang tersebut—bukan untuk mendikte, tapi mengajak berdialog.
Temuan lain yang penting dalam penelitian ini adalah bagaimana penggunaan narasi simultan—yakni penceritaan yang berlangsung seiring waktu aktual—memberi kesan bahwa konflik Palestina bukan peristiwa lampau, melainkan sedang berlangsung dan nyata. Ini berbeda dari banyak buku sejarah yang menghadirkan peristiwa sebagai masa lalu yang selesai. Dengan menyatakan “Saya menulis ini pada Oktober 2023,” Eliyas tidak sekadar menjadi tokoh, tetapi menjelma sebagai penghubung waktu antara peristiwa dan pembaca.
Dari sisi struktural, para peneliti juga menyoroti bahwa teknik bercerita dalam Eliyas Explains menciptakan intradiegetic level, yaitu narator yang hidup dalam dunia yang ia ceritakan, bukan narator dari luar cerita. Di sinilah tampak kesadaran tinggi dari Zanib Mian dalam menyeimbangkan peran narasi sebagai sarana edukasi dan ekspresi artistik. Ketika anak-anak belajar tentang Masjid Al-Aqsa, sejarah kolonialisme, hingga apartheid dari narator sebaya, mereka tidak sedang diceramahi, melainkan sedang menjalani proses memahami dunia bersama.
Pada akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa Eliyas Explains What’s Going On in Palestine bukan sekadar buku anak, tapi karya sastra yang mampu membuka wacana besar: bagaimana membicarakan keadilan pada anak tanpa merusak kepolosannya, dan bagaimana menempatkan anak sebagai warga dunia yang pantas tahu dan peduli. Para peneliti bahkan menyarankan agar karya semacam ini diintegrasikan dalam kurikulum literasi anak dan remaja, tidak hanya untuk memahami geopolitik, tapi juga untuk menanamkan nilai empati, keberanian, dan kesadaran sejarah sejak dini.
Sastra anak, seperti ditunjukkan dalam buku ini dan dianalisis melalui kajian yang mendalam, bukan hanya soal dongeng yang menyenangkan atau moralitas yang dangkal. Ia adalah medan politik yang halus, tempat anak-anak bisa belajar bahwa dunia tidak selalu adil, tetapi mereka punya tempat dan suara di dalamnya.


