Lenoxa.id – Dalam naskah drama Mamas (Masyarakat-Masyarakat Sampah), Bode Riswandi menciptakan sebuah panggung yang tak hanya menghadirkan absurditas dan ironi, tetapi juga menggugat batas antara fiksi dan realitas sosial kita hari ini. Dengan menghadirkan lembaga fiktif bernama Dinas Sensus Bunuh Diri—tempat kematian dikalkulasi sebagai indikator kinerja—Riswandi tidak sedang membuat komedi, melainkan satir sosial yang pahit, yang justru semakin dekat dengan kenyataan ketika tawa selesai dan kenyataan kembali menyeruak.
Penelitian yang dilakukan oleh Syamsul Arifin, Azmia Mar’Atul Latipah, Amara Rahma Fadilah, Rizka Nurziah Syabani, Dandi Mardiansyah, Raffi Yugistia Bima, dan Adita Widara Putra dari Universitas Siliwangi ini menganalisis naskah Mamas menggunakan pendekatan sosiologi sastra.
Diterbitkan dalam Jurnal Bastra edisi Juli 2025, studi ini membongkar berbagai lapisan makna yang terkandung dalam lakon tersebut, mulai dari kegelisahan pengarang terhadap kondisi birokrasi, kegagalan sistem hukum, hingga kapitalisme yang menyusup ke dalam urat nadi kebijakan publik. Ketiganya dipentaskan bukan dalam ruang diskusi akademik, melainkan dalam alur cerita yang menyengat, lucu, dan getir sekaligus.
Dalam drama ini, kepala dinas Ironi Wilatega tidak khawatir tentang tingginya angka bunuh diri—ia justru cemas ketika angkanya menurun karena itu berarti lembaganya kehilangan relevansi. “Kalau tidak ada yang bunuh diri, kita tidak punya laporan ke pusat,” begitu kira-kira argumen birokrat dalam naskah ini.
Bahkan, ada adegan ketika mobil dinas dikritik karena dianggap tidak cukup ‘mewah’ untuk mengangkut jenazah. Seorang calon jenazah disebut batal bunuh diri karena kendaraan dinas dianggap terlalu murah dan tidak representatif. Di sinilah absurditas menjadi senjata tajam untuk menyindir kebijakan publik yang lebih peduli pada simbolisme daripada substansi.
Latar pengarang Bode Riswandi sebagai sastrawan dan pegiat teater memberi napas kuat pada drama ini. Karyanya bukan sekadar imajinasi bebas, tetapi pancaran kegelisahan terhadap sistem sosial yang berjalan pincang.
Drama ini menunjukkan bagaimana kekuasaan sering dibungkus dalam bahasa yang licin, dan bagaimana para pejabat bisa begitu piawai menyulap kegagalan menjadi “capaian administrasi”. Ia menunjukkan kepada penonton bahwa lembaga publik bisa saja menjadi predator, bukan pelindung.
Puncak dari kritik itu terlihat dalam adegan pengadilan ketika para arwah korban bunuh diri menuntut keadilan. Namun sidang malah berujung pada denda untuk menutup tagihan listrik dan gaji hakim yang menunggak. Hakimnya sendiri akhirnya memutuskan untuk bunuh diri karena merasa tak sanggup menyelesaikan kasus. Tentu ini bukan sekadar lelucon muram, tapi refleksi bahwa keadilan sering kali kalah oleh urusan teknis dan anggaran, bahkan sebelum ia sempat berbicara.
Yang lebih mengganggu adalah bagaimana sistem hukum dipersonifikasikan lewat sosok pengacara Guy Solobong—seorang karakter yang mematok harga tinggi bukan karena kerumitan kasus, tetapi karena lawannya bukan manusia, melainkan “arwah” yang katanya punya “retorika filsafat sihir”.
Di sini, hukum bukan lagi arena pencarian kebenaran, tapi transaksi mahal dan sandiwara linguistik. Guy adalah potret karikatural dari para profesional hukum yang melihat tragedi sebagai peluang bisnis, bukan tanggung jawab moral.
Drama ini, menurut para peneliti, berperan ganda: sebagai cermin sosial dan medium pembebasan. Penonton yang awam sekalipun akan merasa digelitik, tetapi jika direnungkan lebih jauh, akan menemukan bahwa realitas yang ditampilkan di atas panggung itu sesungguhnya tidak jauh dari apa yang terjadi di ruang-ruang publik.
Ketika lembaga pemerintahan lebih peduli pada indikator formal ketimbang kesejahteraan warga, ketika anggaran menjadi tujuan dan bukan alat, ketika hukum menjelma komoditas, maka absurditas bukan lagi fiksi—ia menjadi wajah keseharian.
Apa yang ditawarkan Mamas adalah satir, tetapi bukan sekadar untuk ditertawakan. Ini adalah ajakan untuk menyadari bahwa sistem bisa begitu rusak hingga yang tampak sebagai lelucon sesungguhnya adalah luka kolektif. Lewat gaya penulisan yang sarat ironi, dengan karakter-karakter yang ekstrem tapi familiar, Bode Riswandi menaruh cermin besar di hadapan kita semua—sebuah cermin yang memantulkan wajah birokrasi yang rakus, hukum yang lumpuh, dan masyarakat yang dibiasakan untuk percaya bahwa ini semua wajar.
Dengan pendekatan sosiologi sastra, para peneliti membuktikan bahwa Mamas bukan hanya teks panggung, tetapi juga teks sosial yang hidup. Sebuah karya yang mampu menyingkap kedangkalan moral elite dan kekacauan sistemik dengan cara yang menggugah dan menggertak secara bersamaan. Di tengah maraknya produksi naskah drama yang menghindari isu-isu kritis, Mamas hadir sebagai keberanian, bahkan kekasaran, untuk mengatakan bahwa yang busuk itu bukan cerita, tapi sistem.


