Ketika Film dan Suara Jadi Jembatan Puisi: Pembelajaran Kreatif di Kelas SMP Wadaga Dinilai Sangat Efektif

lexora.id By lexora.id
4 Min Read

Lexora.id – Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Bastra edisi Juli 2025 menunjukkan bahwa penggunaan media audio visual dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks puisi. Studi ini dilakukan oleh Hasriati, La Ode Adili, dan Amirudin Rahim dari Universitas Halu Oleo, dengan fokus pada peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Wadaga, Kabupaten Muna Barat.

Dengan menggabungkan gambar bergerak, musik, dan narasi, media audio visual bukan hanya berfungsi sebagai alat bantu teknis, tetapi juga menjadi jembatan emosional dan imajinatif bagi siswa dalam memahami dan mengekspresikan puisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media ini mampu menghidupkan suasana kelas dan menstimulasi kreativitas peserta didik yang sebelumnya kesulitan membangun struktur dan diksi puisi secara mandiri.

Melalui pendekatan kuantitatif deskriptif, peneliti membagi pembelajaran menjadi dua tahap: pertama tanpa media audio visual, dan kedua dengan penerapan media tersebut. Instrumen utama penelitian adalah tes menulis puisi serta observasi aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.

Hasilnya sangat mencolok: 100 persen peserta didik berhasil mencapai standar ketuntasan belajar, dan 90 persen menunjukkan peningkatan aktivitas belajar yang signifikan. Aktivitas guru dalam proses pembelajaran juga tercatat sangat efektif, dengan skor efektivitas mencapai 95 persen, menunjukkan bahwa guru tidak hanya menyajikan materi dengan baik, tetapi juga mampu mengelola media dan menciptakan suasana belajar yang interaktif.

Yang paling menarik dari temuan ini adalah respons peserta didik. Dengan nilai efektivitas respons mencapai 94,54 persen, siswa menunjukkan ketertarikan tinggi terhadap media yang digunakan. Mereka merasa lebih mudah memahami materi, lebih bersemangat, dan lebih terdorong untuk menulis puisi dengan menggunakan gaya bahasa dan imaji yang lebih kuat. Media seperti video puisi, film pendek bertema kemanusiaan, atau lagu instrumental terbukti menggugah daya imajinasi siswa dalam merangkai larik dan bait.

Peneliti menyatakan bahwa keberhasilan ini tidak hanya diukur dari hasil akhir puisi, tetapi juga dari perubahan perilaku belajar siswa—mereka menjadi lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan saling membantu saat proses kreatif berlangsung. Guru pun mendapatkan masukan langsung dari siswa bahwa pembelajaran dengan media audio visual membuat mereka merasa dihargai dan lebih berani mengekspresikan emosi.

Kurikulum Merdeka yang diterapkan di sekolah ini juga disebut memberikan ruang bagi pendekatan semacam ini. Dengan struktur yang lebih fleksibel dan menekankan pada penguatan karakter serta kompetensi literasi, penggunaan media audio visual menjadi relevan untuk mengembangkan kecerdasan emosional dan estetika peserta didik.

Penelitian ini memperkuat argumen bahwa pembelajaran menulis puisi tidak harus bergantung pada metode konvensional. Justru dalam konteks generasi visual dan digital saat ini, integrasi teknologi yang tepat bisa menjadi alat transformatif. Bukan hanya meningkatkan keterampilan menulis, tetapi juga membentuk sensitivitas terhadap bahasa, rasa, dan lingkungan sosial.

Sebagai rekomendasi, para peneliti menyarankan agar penggunaan media audio visual diperluas ke materi sastra lainnya seperti cerpen dan drama, serta digunakan secara rutin di kelas menulis kreatif. Mereka juga mendorong pelatihan guru agar lebih adaptif terhadap perkembangan media dan mampu merancang pengalaman belajar yang berkesan.