Dongeng, Patriarki, dan Bayangan Cinderella dalam Jiwa Perempuan

Redaksi Lexora.id By Redaksi Lexora.id
6 Min Read

Lexora.id – Sejak lama, dongeng bukan sekadar hiburan bagi anak-anak, melainkan ruang sunyi tempat nilai dan imajinasi ditanamkan tanpa kita sadari. Ia berbisik lembut di telinga sebelum tidur, menjanjikan keajaiban, sekaligus menyelipkan pesan-pesan yang melekat hingga dewasa. Di balik keindahan narasi, dongeng menyusun cara kita memandang cinta, harapan, dan terutama peran perempuan dalam panggung kehidupan.

Di balik kisah dongeng yang kerap menemani masa kecil, terselip narasi yang membentuk cara pandang perempuan terhadap dirinya sendiri. Cinderella, dengan kepasrahannya menunggu diselamatkan pangeran, tidak hanya hadir sebagai cerita pengantar tidur. Ia menjelma menjadi simbol laten ketergantungan yang diwariskan lintas generasi. Dongeng itu tampak indah, namun di balik gaun pesta dan sepatu kaca, tersimpan pesan tersembunyi: perempuan akan menemukan jalan keluar hanya jika hadir figur laki-laki yang menolong.

Pesan semacam itu ternyata tidak berhenti di lembaran dongeng, melainkan terus bergema hingga era modern. Banyak perempuan muda masih terjebak pada pola pikir serupa: ragu pada kemampuan diri dan cenderung bersandar pada orang lain. Fenomena ini dikenal sebagai Cinderella complex, sebuah sindrom psikologis yang mengakar dari konstruksi sosial sekaligus internalisasi nilai sejak kecil. Pertanyaan pun muncul: sejauh mana pola asuh keluarga dan konsep diri berperan dalam memperkuat sindrom ini?

Psikolog Colette Dowling pada 1980-an memperkenalkan istilah Cinderella complex untuk menjelaskan paradoks yang dialami perempuan: dituntut mandiri, tetapi tetap terikat pada bayang-bayang ketergantungan. Gambaran itu relevan dengan kondisi perempuan dewasa awal saat ini, yang meski hidup di tengah arus modernitas, masih menghadapi dilema antara tuntutan kemandirian dan dorongan budaya untuk bergantung.

Fenomena tersebut kemudian diteliti lebih jauh oleh Hilwa, Lutfi Arya, dan Wanda R. Syanti dari Fakultas Psikologi Universitas Hang Tuah, Surabaya. Dalam artikel berjudul “Cinderella complex: Apa kaitan konsep diri dan pola asuh berwawasan gender?” yang dipublikasikan di Jurnal Psikologi, Vol. 17 No. 2 (2024), hlm. 265–276, mereka menyajikan data empiris tentang bagaimana konsep diri dan pola asuh berwawasan gender berkelindan membentuk kerentanan perempuan terhadap Cinderella complex.

Penelitian tersebut melibatkan 312 partisipan perempuan usia dewasa awal di Kelurahan Ampel, Surabaya. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan kontribusi efektif sebesar 32,2%, dengan konsep diri menyumbang 23% dan pola asuh berwawasan gender lebih dominan, yakni 29,4%.

Temuan tersebut menegaskan betapa kuatnya faktor eksternal—pola asuh berbasis gender—dalam membentuk pola pikir perempuan muda. Anak perempuan yang dibesarkan dengan stereotipe tradisional—didorong untuk bergantung, dilindungi, dan tidak dipersiapkan menghadapi tantangan—cenderung menginternalisasi Cinderella complex. Sebaliknya, pola asuh yang adil gender membuka jalan bagi kemandirian dan daya juang.

Pemilihan Kelurahan Ampel sebagai lokasi penelitian bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal dengan tradisi yang kental, termasuk nilai-nilai patriarkis yang masih bertahan. Rachmawati (2022) dan Rostiana (2021) mencatat bahwa sejarah migrasi masyarakat Arab di kawasan tersebut turut memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap peran perempuan.

Konteks budaya ini memperkuat gambaran bahwa Cinderella complex bukan sekadar masalah psikologis individual, melainkan refleksi sosial. Dari India hingga Taiwan, bahkan hingga Nusa Tenggara Timur, penelitian menunjukkan norma patriarkis berbanding lurus dengan tingginya kecenderungan perempuan untuk merasa tidak berdaya. Dengan kata lain, ketergantungan ini bukanlah bawaan lahir, melainkan hasil konstruksi sosial yang diwariskan lintas generasi.

Implikasi dari Cinderella complex tidak dapat dianggap sepele. Dowling (1989) menyebut bahwa sindrom ini kerap memunculkan rendahnya harga diri, kesulitan mengambil keputusan, serta ketergantungan emosional dan ekonomi pada pasangan. Penelitian lain bahkan mengaitkannya dengan tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan, hingga praktik kawin kontrak (Mulkan, 2007).

Di Indonesia, Komnas Perempuan (2022) mencatat tingginya angka kekerasan terhadap perempuan sering kali berakar pada ketidaksetaraan relasi gender. Dengan demikian, Cinderella complex bukan hanya persoalan psikologis, melainkan pintu masuk menuju lingkaran kekerasan struktural.

Berdasarkan temuannya, Hilwa dan peneliti lainnya merekomendasikan tiga langkah penting. Pertama, perempuan perlu meningkatkan kesadaran diri, membangun motivasi kemandirian, dan berani menantang stereotipe. Kedua, pemerintah daerah serta lembaga masyarakat perlu memperbanyak program pemberdayaan—mulai dari seminar parenting, penyuluhan gender, hingga pelatihan ekonomi mandiri. Ketiga, riset lintas budaya penting dilakukan untuk memahami bagaimana Cinderella complex termanifestasi dalam tradisi berbeda.

Dongeng Cinderella mungkin tampak sederhana: seorang gadis yang ditolong pangeran hingga hidup bahagia selamanya. Namun di balik kisah romantis itu, tersembunyi narasi laten tentang ketergantungan perempuan pada figur laki-laki sebagai penyelamat.

Penelitian ini mengingatkan bahwa kisah semacam itu tidak hanya hidup di dunia dongeng, melainkan juga mewujud dalam pola pikir perempuan dewasa awal. Karena itu, Cinderella complex perlu dipandang sebagai tantangan nyata yang menuntut intervensi psikologis, sosial, dan budaya. Ia bukan sekadar catatan akademik, melainkan cermin bagi masyarakat untuk menimbang ulang: apakah kita membesarkan anak perempuan agar mandiri, atau terus menunggu “pangeran” yang belum tentu datang?