Lexora.id – Film pendek Tilik yang sempat viral karena menggambarkan kehidupan ibu-ibu desa dengan gaya yang jenaka dan realistis, ternyata menyimpan pelajaran penting tentang komunikasi yang berpotensi menyesatkan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Lingua mengungkap bahwa dialog dalam film tersebut penuh pelanggaran terhadap prinsip kesantunan berbahasa, terutama dalam hal tuduhan, kritik berlebihan, dan komentar yang tidak simpatik.
Kajian dilakukan oleh Salma Salshabella Nur Hamida, Raden Yusuf Sidiq Budiawan, dan Hadi Riwayati Utami dari Universitas PGRI Semarang. Mereka menganalisis 39 tuturan dalam film Tilik menggunakan pendekatan pragmatik berdasarkan prinsip kesantunan Geoffrey Leech.
Hasilnya menunjukkan bahwa maksim kebijaksanaan adalah bentuk pelanggaran paling menonjol. Kalimat seperti “kerjaannya nggak jelas” atau “duitnya dari mana” mencerminkan cara bertutur yang menyerang dan tidak menjaga kenyamanan lawan bicara.
Pelanggaran terhadap maksim simpatik dan maksim pujian juga sering ditemukan. Bahkan pada momen yang membutuhkan empati, tokoh-tokoh dalam film lebih sering mengedepankan komentar sinis yang mempermalukan. Penelitian ini mencatat bahwa gaya bicara seperti itu, meski menghibur, secara tidak langsung bisa membentuk kebiasaan komunikasi yang meremehkan perasaan orang lain.
Yang menarik, penelitian ini juga menelusuri penyebab munculnya tuturan yang tidak santun. Dua penyebab utama adalah dorongan emosi dan kecenderungan untuk menuduh tanpa dasar yang jelas. Karakter Bu Tejo, misalnya, menjadi tokoh sentral dalam penggunaan bahasa yang penuh prasangka dan sindiran.
Ia kerap menyampaikan opini seolah fakta, padahal tidak disertai bukti. Gaya retorisnya yang meyakinkan bisa memberi kesan bahwa sikap tersebut dapat ditiru dalam kehidupan nyata.
Peneliti menegaskan bahwa meski Tilik menyajikan kenyataan sosial, justru karena realitas itulah film ini patut dikritisi. Potret gaya bicara yang diangkat dalam film bisa menjadi bahan refleksi dan pendidikan. Di kalangan pelajar atau penonton muda, gaya bertutur seperti dalam Tilik berisiko ditiru tanpa disaring secara kritis.
Oleh karena itu, diperlukan pendampingan dalam menonton serta pembelajaran pragmatik yang kontekstual di lingkungan pendidikan.
Studi ini menyimpulkan bahwa film seperti Tilik, selain menjadi cermin masyarakat, juga bisa menjadi bahan ajar pragmatik yang efektif. Tokoh-tokohnya dapat digunakan sebagai contoh tentang pentingnya menjaga bahasa agar tidak menyinggung atau menyakiti orang lain. Bahasa, dalam hal ini, tak sekadar menyampaikan maksud, tetapi mencerminkan cara kita hidup bersama dalam masyarakat.


