Banyak yang terlupa dari hal lampau.
kita hanya melihat apa yang diceritakan kebanyakan, dipercaya kebanyakan, dan memusuhi kebanyakan.
Bocah-bocah perempuan yang harusnya masih berlari, tertawa, menulis, membaca dan menggali tentang arti kehidupan,
dipaksa
diangkut atas dasar keserakahan, nafsu dan angan hidup berkecukupan.
Mereka diperbudak penguasa, diperkosa curut-curut yang mengaku pejuang, dikhianati mimpi, dan menjadi pelindung keluarga.
mereka hilang.
Menjadi korban keserakahan penjajah, keserakahan para borjuis.
Perempuan-perempuan yang namanya tak dapat ku sebut.
Tak punya pilihan selain mengemas barang dan meninggalkan yang dikasih.
Berlayar ke Negara Sakura, namun tak sampai.
Mati ditengah hamparan laut dan ombak, diledakkan sistem kekuasaan dan mati tak terkenang. Hilang.
Menyatu dengan alam, mungkin lebih baik.
Para penguasa ribut dengan keegoisannya akan senjata, mengatasnamakan bertahan dan berperang untuk rakyat.
Bohong.
Mereka yang tak bersalah dipaksa ikut terlibat, di doktrin mati nasionalisme. Padahal hanya untuk perut buncit yang tak pernah puas, yang duduk dalam ruangan dingin dan menikmati hasil bisik-bisik penguasa.
Bocah- bocah perempuan yang mati karena wilayah dagang.
Mereka yang mati karena perebutan kekuasaan
Membuktikan siapa yang paling kaya dan berkuasa dengan kecanggihan senjata dan taktik perang.
Mengorbankan pekerja paksa,
Mengorbankan masa kecil bocah-bocah perempuan.
Tak bersalah, tak ada kata maaf. Tak ada yang bertanggung jawab.
Mereka bagai persemayaman tanpa pusara yang hilang dan tak dicari atapun dikenang. Bersatu dengan batu, tanah, dan pasir.
Menguap bagai udara, yang tak dianggap kehadirannya namun menghidupi semua makhluk.
Mereka terlupa, terkubur waktu. terkubur massa.
Lenyap.
Keterangan:
Puisi ini hasil dari membaca salah satu karya Pramoedya Ananta Toer, “Perempuan Dalam Cengkeraman Militer”. Buku ini menceritakan perempuan-perempuan yang dilupakan oleh negara. Usai penjajahan Belanda dan hadirnya Jepang berganti menjajah Indonesia, perempuan-perempuan muda di iming-imingi akan mendapatkan pendidikan yang layak oleh para tentara Jepang.
Keinginan besar untuk mencapai kesuksesan dan mengenyam pendidikan yang layak, para perempuan ini direstui keluarganya untuk pergi bersama tentara Jepang. Sayangnya, dalam buku ini tak semanis itu, banyak perempuan yang hilang, ntah lenyap bersama lautan –mengingat saat itu teknologi kapal tak secanggih sekarang, atau dipaksa menghibur para tentara Jepang yang saat itu sedang terlibat dalam perang dagang dunia.
Sebagian ada yang kembali, lebih banyak yang lenyap dalam mimpi, harapan dan terkubur akibat penindasan. (*/NBH)


