Lexora.id – Di dunia sastra distopia, batas antara manusia dan mesin sering kali kabur, tetapi dalam novel Do Androids Dream of Electric Sheep? karya Philip K. Dick, yang kabur justru lebih dalam: antara kesadaran yang utuh dan pikiran yang telah terfragmentasi. Tokoh John R. Isidore, yang secara sosial dicap sebagai “chickenhead”, dalam kenyataannya adalah cermin dari gejala skizofrenia yang kompleks dan mengganggu. Sebuah studi terkini yang dilakukan oleh Ester Lina dan Famala Eka Sanhadi Rahayu dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman mencoba menyelami kedalaman gangguan pikiran ini dengan lensa psikolinguistik dan teori psikiatri.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Language and Literature Studies (Volume 9, Nomor 2, April 2025), berjudul Schizophrenic Language and Behaviour Analysis of the Main Character in Do Androids Dream of Electric Sheep?, memetakan gejala skizofrenia dalam tiga spektrum utama—positif, negatif, dan kognitif—yang dimanifestasikan dalam perilaku dan ujaran Isidore. Dengan instrumen Thought and Language Index (TLI) dari Liddle et al. serta kerangka psikiatri dari Lindenmayer & Khan (2012), peneliti mengungkap bahwa Isidore tidak hanya mengalami delusi, halusinasi, dan gangguan berpikir, tetapi juga seluruh bentuk gangguan bahasa yang lazim dijumpai pada penderita skizofrenia.
Dalam narasi Dick yang berlatar San Francisco pasca-apokaliptik, Isidore hadir sebagai representasi manusia yang terkena dampak radiasi nuklir—terasing secara genetik, sosial, dan linguistik. Ia bicara dengan kalimat tak rampung, sering tersesat dalam pikirannya sendiri, menciptakan kata-kata baru seperti “kipple-ized” untuk menggambarkan entropi dan kehancuran dunia di sekitarnya. Kata itu, dalam kajian ini, menjadi bukti dari gangguan neologisme: penciptaan kata baru yang hanya bermakna dalam ruang pikir penyintasnya sendiri. Bagi Isidore, “kipple” bukan sekadar sampah fisik, tetapi metafora dunia batin yang tak lagi utuh.
Peneliti menemukan bahwa Isidore memperlihatkan seluruh delapan kategori gangguan bahasa dalam TLI, dari kemiskinan ujaran, logika menyimpang, pengulangan gagasan (perseverasi), hingga pecahan kalimat yang tidak koheren. Yang paling mencolok adalah kecenderungan untuk mengulang-ulang ide dalam situasi emosional intens. Ketika dimarahi atas kesalahan mengenali seekor kucing organik sebagai robot, Isidore hanya bisa mengulang, “Saya pikir itu pekerjaan yang sangat bagus.” Bukannya menjawab atau membela diri, ia terjebak dalam repetisi yang melemahkan daya komunikasi.
Lebih jauh, para peneliti memeriksa bagaimana aspek kognitif seperti atensi, memori kerja, hingga kemampuan sosial Isidore menurun drastis. Ia gagal memahami konsep fiksi ilmiah, tidak mampu mengikuti percakapan dengan logika yang konsisten, dan cenderung menarik diri dari interaksi sosial. Isidore menjadi makhluk yang kesepian bukan karena dunia menolaknya, tetapi karena ia tak lagi bisa menjalin makna yang utuh dalam ujaran dan interaksi.
Salah satu kekuatan analisis ini adalah bagaimana para peneliti membingkai “lingkaran umpan balik” antara gangguan bahasa dan gejala psikologis. Perseverasi gagasan, misalnya, tidak berdiri sendiri; ia berkaitan erat dengan delusi dan ketidakmampuan kognitif untuk beralih topik atau menyusun narasi alternatif. Dalam konteks ini, gangguan bahasa bukan hanya efek samping skizofrenia, melainkan inti dari bagaimana penyakit itu memanifestasikan dirinya dalam dunia intersubjektif—yakni, dunia bersama yang dibangun oleh dan untuk komunikasi manusia.
Isidore, menurut penelitian ini, bukan hanya korban penyakit mental. Ia adalah produk dari sistem dunia yang gagal: kerusakan ekologis, diskriminasi sosial terhadap “spesial” (manusia yang dianggap rusak akibat radiasi), dan tekanan eksistensial karena kehilangan makna. Dalam novel, ia menjadi lawan diam dari tokoh utama Deckard—seorang pemburu android—dan menghadirkan kontras antara logika mesin dengan kehancuran manusiawi yang tak dapat dijelaskan dengan kalkulasi.
Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang kuat, dengan fokus pada kutipan naratif yang diambil langsung dari novel. Penulis tidak hanya mencatat gejala, tetapi menafsirkan konteks emosional dan sosial dari tiap kalimat Isidore. Proses ini menghasilkan pembacaan sastra yang tidak hanya psikiatris, tetapi juga eksistensial.
Studi ini bukan semata ingin menyematkan label klinis pada tokoh fiksi. Sebaliknya, ia mengingatkan kita bahwa sastra ilmiah seperti karya Dick dapat menjadi laboratorium untuk memahami batas bahasa, kerentanan kognitif, dan bagaimana masyarakat memperlakukan mereka yang ‘tidak kompatibel’ dengan norma linguistik dan sosial. Isidore bukan sekadar tokoh, tapi representasi dari dunia yang menolak untuk mendengar bahasa yang tak bisa disederhanakan menjadi tata kalimat sempurna.


