Ajip Rosidi, Kesetiaan Ganda dan Ketegangan Abadi Sastra Indonesia

lexora.id By lexora.id
4 Min Read

Lexora.id – Di tengah geliat pembangunan nasionalisme dalam jagat sastra Indonesia, nama Ajip Rosidi menyembul sebagai satu kutub yang tak pernah diam. Karya-karyanya bukan hanya menjulang secara kuantitatif—lebih dari 300 buku dan ratusan artikel—tetapi juga secara konseptual, menegaskan satu kegelisahan yang terus hadir sepanjang hidupnya: bagaimana menjadi sastrawan Indonesia tanpa meninggalkan akar kesundaan.

Kegelisahan ini menjadi pusat perhatian artikel ilmiah berjudul Ajip Rosidi’s “kegelisahan” (restlessness) in between Sundanese and Indonesian literature karya Teddi Muhtadin dari Universitas Padjadjaran dan Mikihiro Moriyama dari Nanzan University, Jepang. Artikel ini terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Volume 26 Nomor 2, tahun 2025, halaman 285–304. Penelitian ini menyajikan pembacaan kritis atas dialektika kebudayaan yang dialami Ajip: antara kota dan desa, antara bahasa nasional dan bahasa daerah, antara sastra realis dan ekspresi tradisional seperti guguritan dan wawacan.

Ajip lahir di Ciborelang, Jatiwangi, sebuah wilayah linguistik yang mempertemukan bahasa Sunda dan Cirebon. Pengalaman masa kecilnya di Pasukeran, tempat ia diasuh kakeknya, membentuk kecintaan mendalam terhadap bahasa Sunda. Ketika kemudian pindah ke Jakarta dan memasuki dunia sastra berbahasa Indonesia, Ajip tak pernah sepenuhnya meninggalkan dunia Sunda. Di sinilah kegelisahan itu lahir.

Dalam pidato penerimaan Hadiah Professor Teeuw pada 2004, yang menjadi salah satu dokumen utama artikel ini, Ajip mengaku tak pernah bisa sepenuhnya memeluk realisme yang menjadi arus utama sastra Indonesia kala itu. Ia justru terpikat oleh kekayaan simbolik guguritan dan cerita rakyat yang dinilai “tidak realistis”. Karya-karya seperti puisi “Tanah Sunda” dan “Janté Arkidam” lahir dari percik kegelisahan ini.

“Tanah Sunda”, misalnya, adalah puisi yang bukan saja merayakan keindahan lanskap alam Tatar Sunda, tapi juga menjadi semacam sumpah setia kepada tanah kelahiran di tengah konflik bersenjata DI/TII yang melanda daerah itu pada 1950-an. Sementara “Lagu Jakarta” adalah antitesisnya—potret urbanisasi yang sesak, penuh polusi, penderitaan, dan keterasingan.

Puncak dari kegelisahan kreatif Ajip mungkin termanifestasi dalam puisi epik “Janté Arkidam”. Tokoh ini tidak hanya sakti dan kebal, tetapi juga simbol dari siasat, keberanian, dan keliaran yang menolak tunduk pada tatanan mapan. Dalam bacaan para penulis jurnal, Janté adalah metafora Ajip sendiri: sastrawan yang tidak bisa dikurung dalam definisi tunggal—baik sebagai penulis nasional maupun budayawan lokal.

Kondisi ambigu itu bahkan memunculkan reaksi keras dari dua sisi. Di komunitas sastra Indonesia, Ajip dicurigai terlalu memihak Sunda. Di kalangan Sunda sendiri, ia dianggap “kacau”, bahkan disebut “kunyuk rawun ti leuweung Malayu”—kera dari hutan Melayu yang merusak tatanan. Tuduhan itu tidak membuatnya menyerah. Justru dari ketegangan itu ia menyusun visinya: sastra Indonesia yang hidup haruslah berakar di daerah.

Komitmen itu terwujud nyata lewat pendirian Hadiah Sastra Rancagé pada 1989, penghargaan tahunan untuk karya sastra dalam bahasa daerah. Penghargaan ini memberi efek berantai: penerbit berani mencetak buku Sunda, pembaca mulai kembali melirik, dan penulis daerah terdorong berkarya. Pada 2002 saja, 27 buku sastra Sunda berhasil diterbitkan. Rancagé kemudian diperluas ke bahasa Jawa dan Bali.

Artikel ini juga menggarisbawahi evolusi pemikiran Ajip. Jika dulu ia memuja realisme, di masa tua ia mengakui bahwa teori sastra tak seharusnya membelenggu penciptaan. Baginya, “yang penting adalah membaca karya sastra”—karena dari membaca, seseorang menyerap gaya bahasa, memperluas wawasan, dan menemukan dasar untuk mengambil keputusan dalam hidup.

Di balik reputasi intelektualnya yang kokoh, artikel ini juga menyingkap sisi manusiawi Ajip: ketidakpuasan, keraguan, dan kesendirian. Namun justru dari ruang batin yang gelisah itulah lahir warisan sastra yang tak ternilai bagi Indonesia. Warisan yang mempertemukan yang nasional dan yang lokal, yang realistis dan yang simbolik, yang urban dan yang agraris—dalam satu tubuh karya yang terus menghidupi perdebatan tentang apa itu sastra Indonesia.