Dialog Satire, Strategi Bahasa yang Tak Selalu Kooperatif

Redaksi Lexora.id By Redaksi Lexora.id
5 Min Read

Lexora.id – Tuturan dalam film Ngeri-Ngeri Sedap menyimpan lebih dari sekadar dialog keluarga. Ia adalah arena tempat bahasa sering menyimpang dari kaidah kooperatif, tetapi tetap memikul tujuan sosial. Penelitian dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menegaskan, penyimpangan terhadap prinsip kerja sama Grice bukan semata kegagalan komunikasi, melainkan perangkat pragmatis yang bekerja sesuai karakter dan konteks percakapan tokoh-tokohnya.

Jurnal berjudul Penyimpangan Prinsip Kerja Sama dalam Tindak Tutur Tokoh Film Ngeri-Ngeri Sedap, terbit di Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 14, No. 1, Maret 2025, ditulis oleh Deoband Kalabazi dan Yayuk Eny Rahayu dari Program Studi S-1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, UNY. Penelitian ini menganalisis data berupa kata, frasa, hingga kalimat tokoh yang menyimpang dari empat maksim: kuantitas, kualitas, relevansi (hubungan), dan cara. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) serta pencatatan manual (baca–catat). Instrumen penelitian mengandalkan human instrument, sementara reliabilitas diuji melalui expert judgement oleh alumni linguistik UNY.

Peneliti menemukan 342 data tuturan yang memuat penyimpangan tunggal maupun penyimpangan jamak terhadap maksim prinsip kerja sama. Rinciannya mencakup empat bentuk penyimpangan tunggal (kuantitas, kualitas, relevansi, cara) dan 10 bentuk penyimpangan jamak. Pola jamak meliputi penyimpangan terhadap 2 maksim (6 pola), 3 maksim (3 pola), dan 4 maksim sekaligus (1 pola total).

Penyimpangan tunggal memuat 5 jenis ilokusi: asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif.
Penyimpangan jamak hanya memuat 4 ilokusi: asertif, direktif, komisif, dan ekspresif—tanpa deklaratif, karena sifat film yang dominan informal dan satiris, bukan institusional-formal.

Penelitian menyoroti, tuturan para tokoh—khususnya kepala keluarga dalam film—sering kali berkontribusi terlalu banyak atau terlalu sedikit, tidak meyakinkan secara proposisional, serta taksa atau berbelit. Ini memperlihatkan ketegangan antara fungsi regulatif maksim Grice yang ‘mengatur’ percakapan, dengan tuturan retorik yang menurut Leech berorientasi pada efek dan daya pengaruh. Sifat retorik itu justru mendorong penyimpangan demi tercapainya tujuan ilokusi tokoh dalam situasi yang sarat beban sosial-adat.

  • Dalam salah satu contoh, Sarma (Sarma) melaporkan kondisi orang tuanya via video call:
    Sr: “Kalau gak betul ngapain aku nelfon nangis-nangis jam segini?”
    Dialog ini dikategorikan sebagai penyimpangan maksim kuantitas, karena memberikan informasi melebihi kebutuhan, tetapi berfungsi kolaboratif secara sosial, sebab memberi laporan emosional-detail demi membangun pemahaman situasi keluarga yang genting.
  • Contoh lain terjadi saat Domu (Domu) memberi arahan langsung:
    D: “Pak, minta maaf lah sama Mama.”
    Tuturan ini merupakan penyimpangan maksim kualitas dan relevansi, karena memerintah tanpa mendengar dulu alasan konflik, sehingga ilokusinya direktif dan fungsinya kompetitif—bukan untuk mengalahkan, tetapi mendorong efek tindakan segera, meski akhirnya tujuan komunikasi terhambat karena konteks belum terbangun.
  • Sementara itu, tokoh Gabe (Gabe) dalam adegan di bandara menuturkan sindiran:
    G: “Untung kau sering pulang, Bang.”
    Tuturan ini tergolong penyimpangan maksim kualitas dan cara, karena tidak sesuai fakta dan taksa, sekaligus berfungsi bertentangan (conflicting)—digunakan sebagai strategi menyindir, bukan menyampaikan informasi literal, demi efek pragmatis terhadap lawan bicara.

Setiap penyimpangan—baik tunggal maupun jamak—memuat seluruh fungsi tujuan sosial menurut Leech:

  1. Kompetitif – memerintah, menuntut efek tindakan,
  2. Menyenangkan (convivial) – humor, satire yang mencairkan suasana,
  3. Kolaboratif – laporan, keluhan yang memperjelas konteks keluarga,
  4. Bertentangan (conflicting) – sindiran, sarkasme yang menegangkan relasi.

Peneliti menyimpulkan, tuturan satire dan retoris mendominasi karakter film, karena disutradarai oleh komedian, sehingga dialog tak selalu kooperatif secara Grice, tetapi tetap komunikatif secara ilokusi. Penyimpangan ini menjadi penanda karakter tokoh, penggerak konflik salah paham, sekaligus strategi pragmatis untuk memengaruhi mitra tutur.

Meski berfokus pada linguistik film, penelitian ini memberi gambaran luas bahwa informasi yang berlebih atau ditahan sering digunakan tokoh untuk menyelamatkan muka, mempertahankan citra sosial keluarga, atau menuntut efek ilokusi segera, Ketaksaan dialog muncul karena kendala sosial dan tujuan ilokusi yang didahulukan, bukan karena abai, Humor dan sarkasme menjadi alat pengaruh pragmatis yang mendorong atau justru menunda penyelesaian konflik.

Dengan demikian, penyimpangan prinsip kerja sama dalam film ini tidak selalu memutus makna, tetapi sering kali menegosiasikan relasi kuasa dan emosi demi tujuan ilokusi.