Lexora.id – Indonesia mewarisi trauma panjang kolonialisme, sekaligus narasi tentang relasi timpang antara Barat dan Timur. Luka sejarah itu hidup kembali dalam karya sastra mutakhir, salah satunya novel Tanah Bangsawan karya Filiananur, yang menjadi objek telaah dalam jurnal akademik terbaru dari Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian itu menyingkap bagaimana citra “pribumi” dibentuk sebagai the other yang inferior, sementara kolonial Belanda tampil sebagai subjek superior yang mendominasi pendidikan, ekonomi, hingga hierarki sosial-budaya.
Jurnal berjudul Relasi Barat dan Timur dalam Novel Tanah Bangsawan Karya Filiananur, terbit di Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 14, No. 1, Maret 2025, yang ditulis oleh Tofikoh Hidayati dan Nurhadi dari Universitas Negeri Yogyakarta, memetakan empat temuan besar: representasi identitas kolonial–pribumi, superioritas Barat, inferioritas Timur, serta bentuk-bentuk resistansi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik baca–catat dan analisis Miles & Huberman.
Peneliti menemukan, masyarakat pribumi direpresentasikan sebagai irasional, bermoral buruk, eksotis, primitif, dekat dengan religiusitas, dan terbelakang. Sebaliknya, masyarakat kolonial digambarkan rasional, modern, beradab, berpikiran fundamental, serta berasal dari ras kulit putih. Polarisasi ini memperlihatkan cara pengarang—secara sadar maupun tidak—mengadopsi konstruksi orientalisme klasik Edward Said, yang menyebut Timur sebagai liyan (the other) dan Barat sebagai diri (the self).
Contoh paling kuat tampak melalui tokoh Rumi, gadis Jawa yang miskin, impulsif, dan bertindak berdasarkan insting. Dalam subbab awal novel, Rumi digambarkan berlari menghampiri Lars yang terjatuh dari dokar dan merampas kantung gulden yang ia bawa. Tindakan ini memicu siklus kebingungan, kecemasan, dan keputusan impulsif lainnya—termasuk menyeret Lars ke hutan, lalu mengikatnya. Rangkaian adegan itu, menurut peneliti, menjadi metafora keirasionalan yang dibaca Barat atas Timur: gelap, emosional, tanpa kalkulasi risiko.
Tokoh Kiai Said, pemilik pesantren di Cinawi Jeran, juga ditampilkan mengalami pergolakan batin antara melawan atau membiarkan eksploitasi ekonomi oleh keluarga bangsawan Tuan Hanzie. Meski semula hanya berupa bimbang dalam pikiran, narasi itu tetap memperlihatkan inferioritas ideologis pribumi yang dipaksa menimbang sikap di bawah bayang trauma kuasa kolonial.
Penelitian mencatat, superioritas Barat hadir dalam tiga wujud utama:
- Superioritas rasial, ditunjukkan melalui pembedaan kelas sosial dan penempatan kursi khusus kaum Belanda di barisan depan saat pementasan wayang di lapangan Argo Lipuro.
- Kontrol pendidikan, tampak dari protes kolonial terhadap keberadaan pesantren Kiai Said, yang menjadi satu-satunya akses ilmu bagi pribumi di Cinawi Jeran.
- Dominasi ekonomi, terlihat melalui bisnis rempah dan perkebunan keluarga Tuan Hanzie, yang menjadi sumber pangan sebagian penduduk lokal dan memunculkan relasi ketergantungan.
Peneliti menegaskan, kontrol atas pengetahuan formal dan nonformal ini meneguhkan hierarki “Barat di atas Timur,” sebuah konstruksi yang, dalam novel, membuat tokoh-tokoh kolonial seperti Eis berani merendahkan pribumi dengan sebutan inlander—label yang secara ideologis memetakan “pribumi sebagai kaum rendahan.”
Salah satu simbol inferioritas Timur yang paling kuat adalah ketimpangan akses ekonomi. Dalam novel, Rumi dinarasikan hanya mampu membeli ubi untuk makan sehari-hari, sementara Lars terbiasa makan roti mahal. Peneliti membaca simbol ini sebagai metafora keterbatasan finansial sekaligus potret bahwa pribumi di tanahnya sendiri tidak mampu mengakses hasil perkebunan yang dikuasai Belanda.
Relasi ini bukan sekadar soal kelas sosial, tetapi juga akses sumber daya. Gulden yang dirampas Rumi menjadi penanda peluang ekonomi yang diperebutkan, sementara ubi dan roti menjadi diksi simbolik struktur konsumsi yang timpang. Dalam kerangka orientalisme, Timur selalu diposisikan bukan hanya miskin secara material, tetapi juga miskin dalam pilihan.
Menariknya, novel Tanah Bangsawan juga menghadirkan resistansi pribumi dalam dua bentuk:
- Resistansi radikal: Kiai Said, Rumiyem, dan Totok membentuk kelompok pemberontakan terstruktur, yang diwujudkan melalui penculikan dan penyiksaan terhadap Timo.
- Resistansi pasif: dilakukan melalui penguatan identitas budaya Jawa—bahasa Jawa, gamelan, tari Gambyong, penggunaan aksara Jawa, dan kisah perwayangan Semar Bangun Kahyangan.
Gamelan, menurut jurnal ini, menjadi simbol gotong royong dan kesatuan nada, sementara tari Gambyong Pareanom merepresentasikan nilai keselarasan, kekeluargaan, dan penghargaan pada sesama. Narasi ini menjadi strategi pasif untuk memelihara identitas lokal sebagai bentuk penolakan tidak langsung terhadap kuasa kolonial.
Adapun aksara Jawa muncul bukan hanya sebagai elemen eksotis, tetapi juga sebagai alat komunikasi strategis perlawanan. Rumi menuliskan pesan dalam aksara Jawa kepada Mas Totok: “Keluarga Lars akan mengadakan jamuan pesta, bergeraklah! Aku akan memancing Lars keluar dari rumah.” Surat ini, menurut penelitian, menjadi bukti bagaimana identitas kultur lokal dipakai sebagai medan resistansi sekaligus saluran komunikasi bawah tanah.
Relasi Lars–Rumi menjadi subbab penting dalam pembacaan ini. Peneliti mencatat, perasaan keduanya dijepit peraturan kolonial, yang membuat Lars meminta Rumi menikah dengannya setelah ia menikah lebih dulu dengan bangsawan Belanda bernama Annemie, dengan Rumi harus rela menempati posisi istri kedua. Ketegangan ini merepresentasikan diskriminasi rasial yang halus tetapi sistemik.
Paradigma itu memperlihatkan bahwa romantisme dalam novel bukan sekadar melodrama, tetapi kritik ideologis—bagaimana superioritas rasial dan kekuasaan sosial-politik merembes ke ruang paling personal: cinta dan institusi pernikahan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa novel Tanah Bangsawan membawa wacana kolonialisme sekaligus kritik terhadap relasi superior–inferior yang diwariskan Belanda di tanah Jawa, khususnya di Cinawi Jeran. Novel ini mencerminkan ketegangan identitas, ketergantungan ekonomi, subordinasi pendidikan, hingga medan perlawanan budaya dan fisik, yang oleh peneliti dipahami melalui teori poskolonial dan orientalisme.


