Lexora.id – Cerpen Laki-laki yang Tersedu karya Puthut EA bukan hanya menuturkan kisah getir rumah tangga, tetapi juga menyingkap wajah gelap patriarki yang masih bercokol di masyarakat. Melalui bahasa yang lugas namun sarat makna, cerpen ini menggambarkan pergulatan batin seorang perempuan yang terperangkap dalam kekerasan fisik, verbal, dan emosional. Realitas ini menjadi fokus kajian Femas Akhmad Favian dan Tito Yoga Pradana dari Universitas Tidar, yang dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia edisi Januari 2025.
Penelitian berjudul Representasi Sistem Patriarki dalam Cerpen “Laki-laki yang Tersedu” Karya Puthut EA ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis isi. Peneliti mengamati secara detail teks cerpen untuk menemukan bentuk-bentuk kekuasaan patriarki yang muncul, lalu mengaitkannya dengan realitas kehidupan sosial. Tujuannya bukan hanya untuk memetakan bentuk kekerasan yang dialami tokoh perempuan, tetapi juga untuk menelusuri akar sosial dan budaya yang memungkinkannya terjadi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan dalam cerpen ini mengalami kekerasan psikis yang sistematis. Ia dihujani cacian, ancaman, dan penghinaan yang mengikis harga dirinya. Kekerasan ini tidak berhenti di ranah verbal. Sang suami menggunakan kekuatan fisik untuk menegaskan dominasinya, meninggalkan memar di tubuh istrinya, sekaligus melanggengkan rasa takut yang membuat korban sulit keluar dari hubungan tersebut.
Kekerasan seksual juga hadir sebagai bentuk kontrol atas tubuh perempuan. Tokoh “aku” dalam cerpen dipaksa melayani suami pada waktu dan cara yang ditentukan sepihak. Ia kehilangan hak atas tubuhnya sendiri, dan hubungan intim berubah menjadi instrumen kekuasaan. Tekanan ini diperparah oleh perselingkuhan sang suami—adegan yang digambarkan Puthut EA dengan ironi pahit: di saat sang istri bekerja keras menghidupi keluarga, suami justru berhubungan intim dengan perempuan lain di depan anak mereka yang menangis kehausan.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa ketidakadilan gender tidak hanya berlangsung di rumah, tetapi juga merembes ke ranah hukum. Pasca perceraian, perebutan hak asuh anak berakhir dengan keputusan yang menguntungkan pihak ayah. Proses peradilan yang panjang dan melelahkan membuat tokoh perempuan menyerah, memperlihatkan bagaimana patriarki bekerja tidak hanya melalui individu, tetapi juga melalui sistem.
Meski terhimpit, tokoh perempuan berupaya melawan dengan cara-cara kecil namun signifikan. Ia mulai bekerja membuat dan menjual kue untuk mencukupi kebutuhan, berusaha lepas dari ketergantungan ekonomi pada suami. Namun, trauma masa lalu membuatnya enggan kembali menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Bahkan ketika ada yang menawarkan cinta dengan tulus, ia memilih berkata “tidak”—sebuah keputusan yang lahir dari ketidakpercayaan yang membekas, sekaligus bentuk proteksi diri dari luka serupa.
Favian dan Pradana menutup penelitiannya dengan simpulan bahwa “Laki-laki yang Tersedu” adalah potret kompleks patriarki yang mengekang ruang gerak perempuan di berbagai lapisan—mulai dari bahasa, tubuh, hingga hak legal. Cerpen ini tidak hanya mengangkat isu kekerasan domestik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sistem sosial dan hukum kerap gagal memberi ruang aman bagi perempuan.
Dengan demikian, karya Puthut EA dan kajian akademis ini menjadi pengingat bahwa patriarki bukan sekadar konsep abstrak, melainkan realitas yang nyata, menuntut perlawanan yang terstruktur, dan refleksi bersama untuk membangun relasi yang setara.


