Lexora.id – Di tangan W.S. Rendra, panggung bukan sekadar tempat lakon berlangsung. Ia menjelma ruang kritik, altar idealisme, dan medan batin yang bergolak. Naskah drama Mastodon dan Burung Kondor, yang ditulis Rendra pada 1973, melampaui fungsi estetika seni pertunjukan. Ia adalah manifesto perlawanan, potret kekuasaan yang membatu, sekaligus medan konflik batin tokoh-tokoh yang terjebak dalam labirin sejarah, moral, dan jiwa yang remuk.
Melalui pendekatan psikologi sastra, jurnal berjudul Analisis Kajian Psikologis Konflik Batin Tokoh Utama dalam Naskah Drama Mastodon dan Burung Kondor Karya W. S. Rendra yang ditulis oleh A. Rahmania, D. Heryanti, D. N. Fandanu, G. Tresnawati, S. Nurlatipah, dan S. Nurkamila, menyuguhkan pisau analisis yang membelah naskah ini bukan sebagai teks belaka, melainkan sebagai ruang kejiwaan kolektif bangsa (Jurnal Bastra, 10(3), 2025, hlm. 812–818).
Drama ini bertolak dari realitas politik Orde Baru yang represif. Dalam narasi yang tampak fiksi, Rendra justru menghadirkan kebenaran. Tiga tokoh utamanya—Jose Karosta, Juan Frederico, dan Max Carlos—mewakili tiga kutub psikologis: penyair idealis yang resah, mahasiswa revolusioner yang bimbang, dan penguasa diktator yang ketakutan.
Jose Karosta, sang penyair, mencintai tanah airnya seperti seorang kekasih yang tak sanggup menolong. Ia merasa sedih melihat tanah yang subur tetapi warganya melarat. Monolognya membuka naskah dengan lirih: “Wahai tanah airku, alangkah subur lembah-lembahmu, namun alangkah melarat kehidupan rakyatmu.”
Kesedihannya tak berdiri sendiri. Ia juga menyimpan kekesalan pada sistem yang korup, ekstremisme politik, dan realitas yang membuat idealisme terasa sia-sia. Dalam satu adegan, Jose berkata penuh perih, “Aku sudah muak, muak. Sistem yang menguasai kehidupan kita sekarang ini seperti tong sampah.” Emosi itu adalah bagian dari konflik batin yang menggerogoti.
Kekhawatiran muncul ketika Jose harus menimbang langkah. Dalam dialog dengan Gloria, ia berkata, “Aku dalam keadaan yang tegang… Seperti orang yang sedang berjalan di atas titian sebatang kayu.” Ketegangan ini menunjukkan bahwa seni, dalam konteks kekuasaan, bukan sekadar ekspresi—ia adalah perlawanan yang berisiko.
Penyesalan datang diam-diam. Jose tahu bahwa jalan yang ia pilih tidak selalu dipahami. Ketika ia berkata pada Fabiola, “Selamat tinggal,” ia tidak hanya mengakhiri relasi personal, tapi juga menolak kekerasan sebagai jalan perubahan. Di sinilah drama berubah menjadi tragedi batin seorang penyair yang berdiri sendiri, menolak arus, dan memikul harga dari keyakinan.
Juan Frederico sebagai mahasiswa tampil sebagai sosok muda yang penuh semangat tetapi diliputi dilema. Ia memimpin gerakan revolusioner namun mulai menyadari bahwa kekerasan bisa melahirkan diktator baru. Juan adalah cermin Jose dalam bentuk yang lebih muda dan lebih marah, namun juga bayang-bayang Max Carlos yang ia benci.
Sementara Max Carlos, pemimpin diktator, digambarkan sebagai mastodon: makhluk purba yang kuat namun tak bisa menyesuaikan diri dengan zaman. Ia dihantui ketakutan kehilangan kuasa. Ia ingin stabilitas, bukan kebenaran. Inilah wajah kekuasaan yang dibentuk oleh trauma, ketakutan, dan obsesi pada kendali mutlak.
Konflik batin Max bukan sekadar psikologi individu. Ia adalah alegori tentang negara yang gagal berdialog dengan rakyat, lalu memilih represi sebagai jalan keluar. Dalam konteks ini, drama Rendra menyalakan lampu sorot pada mekanisme kuasa yang bukan hanya menindas fisik, tetapi juga menghancurkan jiwa.
Kajian psikologi sastra membuka dimensi penting dalam memahami karya ini. Dengan pendekatan deskriptif-analitis, para peneliti berhasil mengidentifikasi konflik batin para tokoh sebagai cerminan dari ketegangan antara nilai, struktur sosial, dan kondisi psikologis yang saling mengimpit.
Penelitian yang dilakukan Rahmania dkk. ini menegaskan bahwa karya sastra bukan sekadar hiburan. Ia adalah perangkat pendidikan, refleksi, bahkan terapi sosial. Melalui naskah Mastodon dan Burung Kondor, W.S. Rendra tidak hanya mengajak pembaca melihat, tetapi juga merasa.
Drama ini menunjukkan bagaimana perasaan sedih, marah, takut, dan menyesal bisa menjadi bahan bakar perubahan. Tapi juga peringatan bahwa revolusi tanpa kejelasan bisa berakhir menjadi diktator yang sama, hanya dengan wajah berbeda.
Lebih dari 50 tahun sejak ditulis, Mastodon dan Burung Kondor tetap relevan. Dalam dunia yang terus bergulat antara suara rakyat dan kekuasaan yang beku, naskah ini menghadirkan denyut yang jujur dan menohok.
Dengan pisau analisis psikologi sastra, kita diajak menyelami lebih dalam: bahwa setiap tokoh adalah manusia dengan luka, harapan, dan kegelisahan. Drama ini bukan hanya kisah tentang tiga tokoh, tetapi tentang kita semua yang hidup di antara cinta dan kecewa, keberanian dan ketakutan.
Dan di tengah semua itu, suara Rendra masih menggema—tak hanya di panggung, tapi di hati yang tak pernah lelah bertanya: Apa arti kemanusiaan dalam dunia yang dikuasai mastodon?


