Lexora.id – Apa jadinya ketika trauma tak lagi eksklusif milik manusia, tetapi juga milik planet? Ketika laut bukan hanya menggulung kota, tetapi juga mengendapkan luka yang tak bisa dikubur dalam? Dalam dunia yang semakin dibayang-bayangi krisis iklim, tidak sedikit narasi fiksi ilmiah yang memilih untuk tidak lagi menawarkan pelarian, melainkan menghadapkan pembaca pada realitas yang begitu mungkin: bumi yang menolak kita kembali.
Itulah medan wacana yang digali Jarrel De Matas dalam artikelnya Traumatic Tourism and the Tide: Human and Planetary Futures in Selected Stories of Drowned Worlds: Tales from the Anthropocene and Beyond (2021), diterbitkan melalui Victoria University, Australia dan tersedia secara daring melalui DOI 10.26180/5c9db04470604.
Menggunakan pendekatan teoritik yang memadukan trauma studies, ekokritik, dan pemikiran posthumanisme, Jarrel membongkar dimensi simbolik dan politik dari kisah-kisah “dunia tenggelam” dalam antologi Drowned Worlds: Tales from the Anthropocene and Beyond (2017), suntingan Jonathan Strahan. Ia mengajukan satu tesis penting: bahwa fiksi ekologis kontemporer bukan hanya mencerminkan ketakutan terhadap masa depan, tapi juga mengungkapkan ketidakmampuan kita menghadapi trauma ekologis yang telah berlangsung, sedang berlangsung, dan akan terus berlangsung.
Dalam cerita-cerita seperti “Only Ten More Shopping Days Left Till Ragnarök” dan “Venice Drowned”, laut menjadi metafora sekaligus agen literal dari kehancuran. Kota-kota yang dulu megah berubah menjadi situs reruntuhan yang dikunjungi dengan rasa bersalah, heran, dan ketakutan.
Dalam konteks ini, De Matas menggunakan istilah “traumatic tourism”—yakni kecenderungan manusia mengunjungi lokasi-lokasi bencana dengan semangat voyeuristik, sambil menyangkal keterlibatan mereka dalam proses kehancuran tersebut. Pengunjung dalam cerita-cerita ini tidak hanya memandangi masa lalu, tetapi juga menemukan jejak dari diri mereka sendiri yang ikut tenggelam bersama sejarah.
Lebih dari sekadar wisata ke reruntuhan, artikel ini mengusulkan bahwa kita kini hidup dalam dunia pascatrauma ekologis. Planet ini tak lagi menjadi latar, tapi subjek. Dalam cerita “The Common Tongue, the Present Tense, the Known,” trauma juga dialami oleh entitas non-manusia: satwa, arus laut, bahkan ekosistem yang hancur total. Melalui perspektif ini, De Matas menolak humanisme konvensional yang memusatkan trauma hanya pada manusia. Ia mendorong pembaca untuk berpikir dalam kerangka yang lebih radikal: bagaimana merawat luka planet seperti kita merawat luka perang atau luka sejarah?
Namun, apa yang membuat tulisan ini benar-benar menggugah bukan semata penggunaan teori, melainkan keberaniannya membaca fiksi sebagai ruang eksperimentasi etis. Fiksi, kata De Matas, menawarkan lanskap di mana pembaca dapat menavigasi rasa bersalah, ketidakberdayaan, dan kemungkinan penyembuhan. Dalam “The Future is Blue” karya Catherynne Valente, karakter utama tidak hanya menjadi korban perubahan iklim, tetapi juga pewaris ingatan. Mereka berjalan di atas puing-puing peradaban bukan untuk meratapi, tetapi untuk mengingat dan bertahan.
De Matas juga menunjukkan bahwa dalam banyak cerita, ada narasi resistensi yang halus tapi penting. Resistensi ini bukan dalam bentuk revolusi, tetapi dalam bentuk bertahan hidup, membangun kembali bahasa, menulis ulang sejarah, dan memelihara ruang kecil di mana harapan masih bisa tumbuh—sekalipun di antara ganggang dan reruntuhan beton.
Salah satu keunggulan makalah ini adalah bagaimana ia menyusun pembacaan yang tidak hanya estetis, tetapi juga politis. Ia menyoroti bagaimana sistem kapitalisme global, kolonialisme ekologis, dan keangkuhan teknokratik memainkan peran besar dalam mengabaikan tanda-tanda kehancuran planet. Fiksi ekologis, dalam hal ini, bukan hanya alat refleksi, tapi juga bentuk peringatan. Ia berbicara lewat narasi karena data sudah terlalu sering diabaikan.
Dalam kesimpulannya, De Matas menekankan bahwa yang dibutuhkan bukanlah nostalgia atau penyangkalan, melainkan kemampuan untuk menghadapi dan hidup bersama trauma. Fiksi tentang dunia yang tenggelam memberi kita kemungkinan untuk melihat masa depan sebagai ruang kontestasi etis: apakah kita memilih untuk melupakan, menonton, atau mulai menyembuhkan?
Bagi pembaca Lexora.id, artikel ini memperkaya cara kita memahami narasi fiksi spekulatif. Ia mengajarkan bahwa kisah tentang banjir, laut, dan reruntuhan bukan hanya cerita fiksi ilmiah, tetapi refleksi atas kenyataan yang tengah kita alami—dan yang akan semakin dekat jika kita terus memilih menjadi wisatawan dalam bencana yang kita ciptakan sendiri.


