Ingatan yang Terpecah, Perempuan yang Terlupakan: Membaca Trauma Daisy dalam The Great Gatsby

lexora.id By lexora.id
5 Min Read

Lexora.id – Di balik lampu pesta yang gemerlap dan gelembung sampanye yang tak kunjung surut dalam The Great Gatsby, ada sosok perempuan yang selama ini lebih sering dibaca sebagai lambang kemewahan atau pengkhianatan. Daisy Buchanan—nama yang mekar di mulut Jay Gatsby dan membekas dalam imajinasi pembaca selama hampir seabad—jarang dibaca dari dalam, dari sisi paling rapuhnya.

Sebuah studi mendalam dari Helen Pretorius, berjudul Re-telling Daisy’s Narrative of War in The Great Gatsby, menerobos batas tafsir lama dan menempatkan Daisy sebagai penyintas trauma perang yang narasinya disamarkan oleh estetika Amerika pascaperang.

Artikel ini diterbitkan pada 2021 melalui Victoria University, Australia, dan dapat diakses melalui DOI: 10.26180/18259115. Pretorius menawarkan pembacaan ulang yang menggugah atas karakter Daisy dengan menggunakan pendekatan psikoanalitik—khususnya konsep trauma sebagai “pengulangan” (repetition compulsion) yang tidak disadari, seperti dijelaskan dalam teori Freud dan dikembangkan dalam studi-studi trauma mutakhir.

Alih-alih memosisikan Daisy sebagai tokoh dangkal yang labil dan materialistis, Pretorius melihatnya sebagai representasi dari pengalaman perempuan yang terluka secara sistemik oleh Perang Dunia I—sebuah trauma kolektif yang dialami melalui keheningan, penghindaran, dan pelupaan. Narasi Daisy adalah narasi yang retak, tidak utuh, karena memang tidak dimaksudkan untuk hadir sepenuhnya dalam teks. Ia muncul dalam selipan, dalam jeda percakapan, dalam keengganan untuk mengingat. Ia, dalam kata Pretorius, adalah figur “unlived past”—masa lalu yang tidak pernah sungguh-sungguh dijalani atau disembuhkan.

Dalam novel karya F. Scott Fitzgerald itu, Gatsby dan Tom kerap menjadi pusat konflik dan penggerak cerita, sementara Daisy dibingkai lewat sudut pandang Nick Carraway yang ambigu. Pretorius menyelidiki bagaimana pengalaman Daisy selama masa perang justru disingkirkan dari narasi utama, atau lebih tepatnya, dikunci rapat-rapat dalam simbolisme sosial yang membentuk citra perempuan ideal Amerika: cantik, lembut, anggun, dan tak pernah mengeluh. Padahal, luka Daisy nyata—dan hadir dalam caranya bicara, cara ia menghindar dari konfrontasi, dan cara ia menjadikan suaranya sebagai alat bertahan.

Pretorius menulis bahwa suara Daisy, yang disebut Gatsby sebagai “penuh uang”, bukan hanya metafora kekayaan, tetapi juga resonansi dari dunia yang menolak mendengar suara perempuan kecuali jika ia terdengar menyenangkan. Suara itu tidak menyampaikan kebenaran, melainkan menyesuaikan diri dengan harapan. Maka, ketika Daisy tidak memilih Gatsby, banyak pembaca menganggapnya pengkhianat. Padahal, dalam analisis Pretorius, itu adalah bentuk perlawanan pasif—sebuah cara bertahan di tengah dunia patriarkal yang tidak memberi ruang bagi perempuan untuk bebas tanpa konsekuensi.

Dalam satu bagian penting, Pretorius membahas bagaimana trauma dalam diri Daisy hadir sebagai pengulangan tanpa sadar: ia terus berada dalam relasi yang merusak, terus menyangkal pilihan, terus menghindari perasaan, dan terus hidup dalam simulakra kehidupan mewah yang kosong. Ini selaras dengan konsep trauma sebagai sesuatu yang bukan hanya dikenang, tapi justru berulang tanpa bisa dikenali sepenuhnya. Daisy tidak “melupakan” masa lalunya bersama Gatsby, tetapi tidak mampu menghadapinya.

Yang menjadikan penelitian ini penting adalah keberaniannya membaca ulang teks klasik Amerika dari perspektif gender dan psikoanalisis trauma secara simultan. Pretorius tidak sedang mencari “simpati” untuk Daisy, melainkan keadilan dalam narasi. Ia membongkar struktur teks Fitzgerald yang secara tak sadar—atau justru sangat sadar—mengasingkan pengalaman traumatis perempuan demi melanggengkan narasi maskulin tentang keberanian, kehormatan, dan kehilangan.

Penelitian ini mengajak pembaca untuk memikirkan ulang: siapa yang diceritakan, dan siapa yang disenyapkan dalam narasi besar? Di balik cinta Gatsby yang tak padam, ada Daisy yang tak pernah benar-benar diberi hak bersuara. Ia hadir, tapi tak dimiliki. Ia hidup, tapi tak didengar.

Dan di situlah peran sastra, seperti yang diyakini Lexora.id—bukan hanya sebagai cerita, tapi ruang refleksi. Dalam membaca ulang The Great Gatsby melalui suara Daisy yang direstorasi oleh Pretorius, kita menemukan bahwa narasi besar Amerika bukan hanya dibangun oleh mimpi-mimpi lelaki, tapi juga oleh luka-luka perempuan yang selama ini disapu di bawah karpet kemewahan.