Perempuan, Tanah, dan Luka Modernitas: Membaca Suara Ekokritik dalam Nectar in a Sieve

lexora.id By lexora.id
5 Min Read

Lexora.id – Di tengah hingar-bingar narasi kemajuan dan industrialisasi, suara-suara kecil dari desa sering kali tenggelam. Mereka yang bersuara bukan pemilik modal, bukan pejabat negara, melainkan perempuan desa yang menggenggam tanah dengan cinta dan menerima hujan dengan sabar.

Kamala Markandaya, novelis India terkemuka, menghadirkan tokoh seperti itu dalam Nectar in a Sieve, sebuah novel yang diam-diam menjadi catatan luka atas eksploitasi alam dan manusia. Dalam kajian bertajuk An Ecocritical Concerns in Kamala Markandaya’s Nectar in a Sieve, dua peneliti dari India—Dr. Chougule Ramesh Baburao dan Rajendra Dilip Patil—mengungkap bagaimana novel tersebut memuat narasi ekologi yang tak kalah menggugah dibanding kritik sosialnya.

Artikel ini diterbitkan dalam International Journal of Linguistics and Literature (IJLL), Vol. 13, No. 2, Juli–Desember 2024, dan menyisir secara mendalam bagaimana Nectar in a Sieve tidak hanya berbicara tentang penderitaan perempuan, tetapi juga tentang keretakan hubungan manusia dan alam akibat modernisasi yang membabi buta. Di tengah gempuran tanneries—pabrik penyamak kulit—dan berbagai infrastruktur industri yang dibawa atas nama pembangunan, tokoh Rukmini, sang narator perempuan, menjadi saksi sekaligus korban perubahan zaman.

Markandaya, melalui gaya naratif realis yang subtil, menggambarkan bagaimana industrialisasi tidak hanya menghancurkan ruang hidup, tetapi juga menghancurkan struktur keluarga dan martabat perempuan. Rukmini dan suaminya Nathan hidup sederhana, menggantungkan harapan pada hasil panen dan kasih yang tumbuh dari tanah. Namun, hadirnya industri mengubah segalanya: harga kebutuhan melonjak, tanah mereka diambil, anak-anaknya tercerabut dari ladang, bahkan putrinya terpaksa menjadi pekerja seks demi bertahan hidup.

Bagi Chougule dan Patil, narasi ini bukan sekadar kisah duka personal. Ia adalah refleksi ekokritik yang menghubungkan kehancuran ekologis dengan penindasan struktural. Dalam kerangka ekokritik, yang didefinisikan oleh William Rueckert, Cheryll Glotfelty, Greg Garrard, dan Lawrence Buell, hubungan manusia dan lingkungan dilihat bukan sekadar relasi fisik, tapi juga relasi ideologis dan kultural. Markandaya menempatkan perempuan dan alam dalam posisi yang sama: ditundukkan, diabaikan, dan dieksploitasi atas nama kemajuan.

Salah satu kekuatan kajian ini adalah penggalian terhadap simbol-simbol pastoral dalam novel yang perlahan mengalami kehancuran. Burung berhenti bernyanyi. Sawah tidak lagi menghijau. Tanah yang dulu penuh kehidupan menjadi gersang. Markandaya dengan jitu menunjukkan bagaimana perubahan ini tidak hadir sebagai latar narasi, tetapi sebagai aktor yang mengubah nasib manusia. Alam tidak pasif. Ia menderita, dan penderitaannya berdampak langsung pada kehidupan tokohnya.

Namun, ekokritik Markandaya tidak berhenti pada kritik. Ada juga lapisan reflektif tentang pilihan dan kehendak. Rukmini bukan tokoh yang mengutuk zaman tanpa daya. Ia bergulat. Ia mencoba memahami anak-anaknya yang memilih kerja di pabrik, meskipun itu menghancurkan nilai-nilai hidup yang selama ini ia pegang. Dalam satu kutipan menyayat, Rukmini berkata, “Somehow I had always felt that the tannery would eventually be our undoing.” Ia tahu kejatuhannya sudah ditulis dalam peta modernisasi yang tak menyisakan ruang bagi petani kecil.

Dr. Chougule dan Patil juga menekankan pentingnya pembacaan pascakolonial dalam kajian ekokritik ini. Mereka menunjukkan bagaimana eksploitasi lingkungan di dunia pascakolonial sering kali melanjutkan praktik kolonial lama—mengambil sumber daya tanpa mempertimbangkan manusia dan budaya lokal. Dalam konteks India pasca-kemerdekaan, pembangunan dijalankan dengan semangat Nehruvian yang menekankan industrialisasi sebagai jalan utama kemajuan. Namun, siapa yang benar-benar diuntungkan? Dalam Nectar in a Sieve, jawabannya sangat jelas: bukan Rukmini, bukan Nathan, bukan buruh tani desa.

Kritik ekokritik dalam novel ini menjadi lebih menggugah karena disampaikan melalui bahasa yang puitis dan tenang. Markandaya tidak menjerit dalam tulisannya. Ia hanya menceritakan. Tapi justru dalam ketenangan itu, kemarahan dan kesedihan menjadi lebih menusuk. Seperti bunyi burung yang tiba-tiba hilang dari langit, pembaca disadarkan bahwa ada sesuatu yang sangat keliru sedang terjadi—dan itu tidak bisa diperbaiki dengan jargon pembangunan atau grafik pertumbuhan ekonomi.

Kajian ini mengingatkan bahwa sastra bukan hanya cermin masyarakat, tetapi juga peringatan dini. Ia menangkap suara-suara kecil yang tak terdengar di ruang sidang atau berita utama. Dan dalam dunia yang semakin dingin terhadap krisis lingkungan, suara seperti Rukmini perlu terus dihidupkan—bukan hanya sebagai tokoh fiksi, tetapi sebagai pengingat bahwa tanah, tubuh, dan martabat tidak bisa dikorbankan demi mesin dan beton.