Ketika Sastra Menjadi Senjata, Melawan Stereotip Gender dari Balik Halaman

lexora.id By lexora.id
4 Min Read

Lexora.id – Di dalam sunyi ruang baca, baris-baris kata ternyata mampu menantang tatanan sosial yang berabad-abad mengakar. Sastra bukan hanya pelipur lara atau media hiburan. Ia adalah medan ideologis, arena pertarungan, dan ruang resistensi—terutama bagi perempuan yang selama berabad-abad hanya ditulis, bukan menulis.

Penelitian Dr. Shruti Jha Bahukhandi dari Swami Atman and Model English Medium College, Chhattisgarh, India, membuktikan hal ini dengan tajam dalam artikelnya berjudul Literature as a Tool in Defying Gender Stereotypes, yang terbit di International Journal of Linguistics and Literature (IJLL), Vol. 13, No. 1, Januari–Juni 2024.

Artikel ini menyajikan sebuah analisis historis dan tematik terhadap bagaimana karya-karya sastra, terutama dari India abad ke-19 hingga era pascakolonial, digunakan untuk mendobrak stereotip gender dan membayangkan ulang peran perempuan dalam masyarakat. Dalam ruang ini, sastra bukan sekadar cermin, tapi martil: alat untuk membentuk ulang wajah dunia yang selama ini dilihat hanya dari mata laki-laki.

Bahukhandi memulai kajiannya dari konteks kolonial India, ketika perdebatan tentang modernitas, barat, dan “perempuan baru” menjadi begitu genting. Saat para perempuan India mulai terpapar pendidikan, terutama melalui misi Kristen, muncul gelombang reaksi keras dalam bentuk satire dan parodi sosial. Penulis seperti Ishwar Chandra Gupta dan para “kabiyal” (penyair lisan) menyerang perempuan yang dianggap meniru gaya Barat. Sastra, pada masa ini, menjadi wahana kontrol moral dan budaya terhadap tubuh dan perilaku perempuan.

Namun arah sejarah berubah. Dengan masuknya pemikir progresif seperti Raja Ram Mohan Roy, Vidyasagar, hingga Gandhi, sastra mulai menjadi ruang advokasi. Perempuan bukan lagi objek, tetapi subjek perjuangan. Bahukhandi mencatat peran monumental perempuan-perempuan pelopor seperti Chandramukhi Bose dan Kadambini Ganguli—dua sarjana India pertama yang menjadi simbol kebangkitan perempuan di bidang ilmu pengetahuan dan profesi.

Dalam konteks ini, sastra perempuan mulai hadir sebagai kekuatan naratif tersendiri. Tokoh-tokoh seperti Savitri dalam Ancient Ballads and Legends of Hindustan karya Toru Dutt menyuarakan semangat yang jauh lebih mendalam dari sekadar keberanian menghadapi Yama, Dewa Kematian. Savitri bukan hanya simbol kesetiaan, tapi juga perempuan yang berbicara dengan bahasa filsafat Vedanta—mewakili keberdayaan intelektual perempuan yang selama ini dibungkam.

Penelitian ini juga mengungkap bagaimana karya-karya modern seperti The Guide (R.K. Narayan), The Old Woman and the Cow (Mulk Raj Anand), dan Danyanti’s Dilemma (R.W. Desai) mencoba menghidupkan kompleksitas pengalaman perempuan. Meski ditulis oleh laki-laki, karya-karya ini membuka pintu bagi munculnya suara yang lebih otentik: para penulis perempuan India yang mengambil alih pena dan menyuarakan kisah dari sudut yang selama ini direpresi.

Daftar panjang nama yang disebut Bahukhandi menjadi bukti kebangkitan ini: Anita Desai, Nayantara Sahgal, Kamala Markandaya, Shashi Deshpande, Shobha De, Mahasweta Devi, dan Bharti Mukherjee. Mereka menulis tentang luka, cinta, pemberontakan, seksualitas, kemiskinan, dan identitas. Mereka tidak takut menggambarkan perempuan sebagai subjek yang marah, ragu, berhasrat, bahkan gagal—karena hanya dalam narasi yang jujur, perempuan bisa benar-benar ada.

Namun, meski sastra telah menciptakan ruang pembebasan, kenyataan sosial tidak selalu mengekor dengan cepat. Bahukhandi menyoroti ironi di India kontemporer: meski hukum berpihak dan pendidikan semakin merata, kekerasan, subordinasi, dan stereotip tetap hidup dalam budaya populer, media, dan struktur keluarga. Sastra, dalam konteks ini, menjadi oasis sekaligus peringatan. Ia membuka kemungkinan, tapi juga mengungkap luka yang belum selesai.

Kekuatan artikel ini terletak pada pendekatan lintas zaman yang tidak hanya menganalisis teks sastra, tapi juga sejarah, kebijakan, dan perubahan sosial. Dari sati dan purdah hingga feminisme modern dan penerbitan alternatif seperti Kali for Women, Bahukhandi merangkai benang merah bagaimana sastra ikut membentuk kesadaran kolektif tentang perempuan—dan lebih penting lagi, membentuk bahasa baru untuk menyebut perempuan bukan sebagai objek belas kasih, tapi sebagai aktor yang penuh agensi.