Lexora.id – William Wordsworth bukan hanya penyair alam; ia adalah penjelajah batin. Di balik lanskap gunung, danau, dan padang rumput yang digambarkannya, terselip dunia psikologis yang kaya dan dalam. Sebuah penelitian unik karya Mushtaq Ur Rehman (Gomal University, Pakistan) dan Nasir Jamal Khattak (Kohat University of Science and Technology, Pakistan) berjudul Wordsworth’s Poetry: Integrating the Anima/Animus mengajak kita menelusuri sisi tersembunyi dari karya penyair Romantik ini—yakni bagaimana puisi-puisinya menjadi ruang pertemuan antara maskulinitas dan feminitas dalam kerangka psikologi Jungian.
Artikel ini dipublikasikan dalam International Journal of Linguistics and Literature Vol. 1, No. 1, Agustus 2012, dan memusatkan perhatian pada konsep anima dan animus, dua arketipe dalam alam bawah sadar manusia menurut Carl Jung. Melalui pembacaan puisi-puisi Wordsworth, para penulis menunjukkan bahwa karya sang penyair tidak hanya mengagungkan alam sebagai objek luar, tetapi justru sebagai gerbang menuju pencapaian batin dan integrasi kepribadian.
Dalam psikologi analitik, anima mewakili aspek feminin dalam jiwa laki-laki, sedangkan animus merupakan sisi maskulin dalam jiwa perempuan. Keduanya adalah jembatan menuju ketidaksadaran yang dalam. Wordsworth, lewat imajinasi kontemplatif dan hubungan intimnya dengan alam, dinilai telah berhasil memasukkan anima ke dalam kesadaran sebagai upaya menyeluruh meraih keutuhan psikologis.
Puisi seperti The Prelude dan Intimations of Immortality diulas sebagai ekspresi pengalaman batin yang tidak rasional namun terang, lembut namun menggugah. Kata-kata seperti “mind’s abyss” dan “wonders of the deep” yang digunakan Wordsworth menjadi titik masuk menuju kedalaman batin yang, menurut Rehman dan Khattak, sangat selaras dengan simbolisme anima. Dalam satu bait, ia menulis:
“Thanks to the human heart by which we live, Thanks to its tenderness, its joys, and fears…”
Di sini, “human heart” menjadi simbol utama dunia batin yang penuh perasaan, kasih, dan koneksi. Inilah ranah kerja anima, bukan akal rasional. Dalam sajak-sajak seperti To My Sister, To the Daisy, dan Tintern Abbey, penyair tampak menempatkan “ibu”, “adik perempuan”, dan bahkan bunga sebagai simbol keterhubungan yang feminin. Alam bukan semata-mata latar, tetapi subjek yang hidup dan memberi semangat. Dalam puisinya Daffodils, ia menulis:
“And then my heart with pleasure fills, And dances with the daffodils.”
Bagi para peneliti, ini bukan sekadar metafora puitis, melainkan ekspresi penyatuan dengan energi feminin—energi yang menghubungkan, memelihara, dan menciptakan. Tak heran jika para tokoh perempuan dalam puisi Wordsworth seperti Lucy, Ruth, dan Mad Mother bukan hanya simbol tragedi, tetapi juga representasi anima yang terabaikan atau terluka, yang menunjukkan dampak jika sisi feminin dalam jiwa laki-laki ditekan.
Lebih jauh, simbol air sering kali muncul dalam puisinya, dan ini ditafsirkan sebagai lambang batin dan kehadiran anima. Seperti dijelaskan dalam makalah ini, air dalam psikologi Jungian mencerminkan kedalaman jiwa, kelenturan, dan kekuatan melarutkan ego-maskulin yang kaku. Di titik ini, Wordsworth menjadi lebih dari sekadar penyair: ia tampil sebagai dukun spiritual yang memandu kita menyeberangi batas-batas antara logika dan perasaan, antara dunia luar dan dalam.
Penelitian ini menawarkan perspektif penting dalam sastra Inggris: bahwa puisi bukan hanya keindahan bunyi dan imaji, tetapi juga alat terapeutik yang mengajak pembacanya menelusuri sisi terdalam dari eksistensinya sendiri. Dengan memanfaatkan teori Jung tentang anima/animus, Rehman dan Khattak membaca Wordsworth sebagai penyair yang berhasil menyatukan maskulinitas dan feminitas dalam satu aliran kesadaran.
Di zaman di mana dunia tampak semakin kaku oleh struktur, dominasi logika, dan distansi emosional, suara lembut Wordsworth menjadi relevan kembali. Ia mengingatkan bahwa untuk menjadi manusia utuh, kita harus belajar memeluk sisi-sisi yang tak terlihat—yang halus, yang diam, yang mengalir seperti air.


