Lexora.id – Di era ketika layar menjadi perpanjangan lidah dan emoji menggantikan ekspresi, ada satu elemen yang kian berperan namun kerap luput diperhitungkan: gestur. Dalam komunikasi digital yang serba cepat dan multimodal, makna tidak lagi hanya bertumpu pada teks, tetapi juga pada gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan posisi ruang. Sebuah studi mutakhir dari R. Kunjana Rahardi (Universitas Sanata Dharma) dan Wahyudi Rahmat (Universitas PGRI Sumatera Barat) menawarkan perspektif baru tentang bagaimana konteks gestural membentuk niat dan makna ujaran dalam dunia maya yang terus berekspansi.
Dalam artikel berjudul Gestural Cybertextual Contexts as Background of Speech Intentions on Digital Media, yang diterbitkan dalam RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajarannya, Volume 18, Nomor 1, Februari 2025, para peneliti menelisik dinamika multimodality dalam komunikasi digital. Mereka menggarisbawahi bahwa komunikasi virtual masa kini bukan hanya lintas kata, tetapi juga lintas mode—visual, verbal, gestural, bahkan spasial.
Penelitian ini membuktikan bahwa konteks gestural dalam media digital memegang lima peran utama dalam membentuk makna pragmatis ujaran: sebagai latar bagi asumsi personal, sebagai representasi asumsi komunal, sebagai ilustrasi makna, sebagai alat konfirmasi, dan sebagai penegas intensi ujaran. Dalam konteks ini, gestur bukan sekadar aksesori komunikasi, melainkan medium makna yang berdiri sendiri.
Melalui pendekatan kualitatif dengan studi konten pada platform media sosial, Rahardi dan Rahmat menemukan bagaimana kombinasi antara ekspresi wajah, postur tubuh, dan sinyal tangan mampu membentuk asumsi makna yang berbeda-beda. Dalam satu unggahan YouTube yang mereka telaah, ekspresi sedih seorang pria saat menyebut “mata almarhumah dan rembulan” menjadi signifikan karena didukung oleh gestur memegang dahi dan tatapan mata sendu. Gestur ini memperkuat kesedihan, membangun empati penonton, dan menjadi jembatan yang memperjelas ujaran tersebut sebagai bentuk duka, bukan sekadar narasi.
Hal yang sama ditemukan dalam unggahan Instagram yang membahas satire sosial. Seseorang menutup mulutnya sambil memegang buku berjudul Bungkam Suara, menyiratkan kritik terhadap represi kebebasan berpendapat. Tanpa gestur tersebut, makna satire dalam unggahan mungkin tidak akan sekuat itu. Dalam contoh ini, gestur menjadi juru tafsir yang tak kasatmata, namun sangat nyata.
Aspek yang lebih luas juga ditemukan pada asumsi komunal. Misalnya, unggahan mengenai aksi siswa dan guru SD memungut sampah saat Car Free Day di Solo. Rahardi dan Rahmat menunjukkan bahwa gestur anak-anak memegang kantong sampah membentuk pemahaman kolektif akan nilai gotong-royong dan tanggung jawab lingkungan. Gestur menjadi representasi nilai moral yang dipahami bersama, bukan hanya oleh individu, tetapi oleh komunitas digital yang menyaksikan unggahan itu.
Yang paling revolusioner dari studi ini adalah pengakuan terhadap independensi gestur dalam membentuk makna. Dalam komunikasi digital, gestur tidak harus terjadi secara real time; ia bisa direkam, disunting, bahkan direkayasa untuk menekankan suatu pesan. Ini berbeda dari komunikasi luring, di mana gestur berjalan bersamaan dengan ujaran. Dalam ruang digital, gestur bisa berdiri sendiri sebagai “teks” yang utuh—baik dalam bentuk video, meme, hingga emoji animasi.
Gestural cybertext juga memiliki peran konfirmatif. Dalam konteks debat publik atau penyampaian opini, misalnya, seseorang yang mengucapkan “saya takut” akan memperkuat intensi tersebut dengan gerakan tangan ke dada atau raut wajah cemas. Tanpa gestur ini, ujaran bisa terdengar hambar atau ambigu. Gestur menghadirkan “bobot rasa” yang sulit dicapai hanya dengan teks.
Yang paling kritis, menurut peneliti, adalah peran gestur dalam penegasan makna. Dalam kasus ilustratif yang mereka angkat, seperti video wawancara atau rekaman kejadian kekerasan, gerakan tubuh sering kali mengungkap lebih banyak ketimbang kata-kata. Seorang mahasiswa yang diduga dianiaya, misalnya, tidak perlu mengucapkan apapun; video dengan gestur perlindungan diri dan tubuh meringkuk sudah cukup menyuarakan intensi trauma dan perlakuan kasar.
Dalam lanskap digital yang semakin kompleks, pemahaman akan konteks gestural menjadi sangat vital. Tidak hanya bagi praktisi komunikasi atau peneliti linguistik, tetapi juga bagi pengguna internet sehari-hari. Dalam komentar, unggahan, atau video pendek yang kini menjadi bagian dari keseharian, cara kita menggerakkan tubuh dan menampilkan wajah tak lagi bersifat sekunder. Ia menentukan apakah pesan kita dipahami sebagaimana mestinya, atau justru disalahartikan.
Rahardi dan Rahmat menutup penelitian mereka dengan ajakan agar studi tentang gestural cybertext terus dikembangkan, khususnya dalam konteks multibahasa dan multikultural. Karena dalam dunia digital, di mana konteks langsung sering kali absen, gestur dan multimodality menjadi kunci membangun kejelasan, empati, dan pemahaman lintas ruang.


