Rijoq dan Suara yang Tak Pernah Padam: Melacak Napas Tradisi Dayak Benuaq Lewat Nyanyian dan Inovasi

lexora.id By lexora.id
5 Min Read

Lexora.id – Di balik barisan syair yang terdengar melantun lembut dari pedalaman Kutai Barat, ada suara yang lebih dari sekadar nyanyian. Ia adalah rijoq—nyanyian tradisional Dayak Benuaq yang tak sekadar menghibur, tapi menjadi pengikat sejarah, pengusung nilai, dan jembatan spiritual antara manusia, leluhur, serta alam. Di tengah gelombang modernisasi, nyanyian ini tidak menghilang, melainkan menjelma. Ia berbaur dengan electone, direkam dalam kanal YouTube, dan disuarakan kembali oleh generasi yang tumbuh di antara lamin dan layar digital.

Dalam sebuah penelitian mendalam bertajuk Peran Penyanyi Daerah Dalam Pelestarian Nyanyian Rijoq Suku Dayak Benuaq Di Kutai Barat, tiga akademisi dari Universitas Mulawarman—Faisal Erlangga, Zamrud Whidas Pratama, dan Saferi Yohana—menelaah bagaimana rijoq tidak sekadar bertahan, tapi juga berkembang berkat peran krusial penyanyi daerah. Penelitian ini diterbitkan dalam Journal of Language and Literature Studies, Volume 9, Nomor 2, April 2025, dan membuka lapisan-lapisan transformasi kultural yang jarang didokumentasikan secara akademik.

Rijoq, yang secara etimologis berarti “bersyair,” awalnya adalah nyanyian spontan tanpa iringan musik, dinyanyikan dalam suasana perladangan atau selepas aktivitas komunitas. Namun, sejak awal 2000-an, rijoq mulai bertransformasi: diiringi suling dewa, kelentangan, bahkan electone, dan direkam dalam album serta disiarkan secara daring. Nama-nama seperti Martinus Sigum, Emanuel, dan Yakobus Lorentius Rigat menjadi poros dalam revitalisasi rijoq sebagai bentuk ekspresi budaya yang tidak kalah dinamis dibandingkan genre musik kontemporer.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kerja lapangan dan kerja laboratorium ala Bruno Nettl, termasuk wawancara langsung dengan para penyanyi rijoq dan dokumentasi penampilan di berbagai festival. Salah satu kontribusi terbesar riset ini adalah analisis ornamentasi vokal dalam rijoq, khususnya teknik melismatis dan silabis yang membentuk karakter musikalnya. Teknik ini bukan hanya sekadar estetika suara, tapi juga media untuk menyampaikan rasa, narasi, dan nilai-nilai Dayak Benuaq secara lebih mendalam.

Lewat lagu seperti Sokat Inaaq Amaaq, misalnya, melismatis digunakan untuk menekankan emosi rindu seorang anak kepada ibunya. Analisis musik yang dilakukan terhadap lagu ini menunjukkan bahwa nada-nada yang digunakan memiliki kedekatan dengan skala alat musik tradisional Benuaq, seperti kelentangan. Struktur syairnya yang terdiri dari lima baris—dengan baris terakhir sebagai pengulangan—merupakan bentuk pakem rijoq yang tetap dijaga meski iringannya kini bertransformasi.

Namun pelestarian rijoq tidak hanya soal teknik atau aransemen. Ia juga tentang kesadaran budaya. Sigum, misalnya, beralih dari penyanyi dangdut menjadi penggerak rijoq sejak 2009, dan aktif mendokumentasikan lagu-lagu rijoq dalam kanal YouTube pribadinya. Ia juga menjadi pendidik informal yang membuka ruang bagi siapa pun untuk belajar rijoq. Di sisi lain, Yakobus Rigat membawa rijoq masuk ke kurikulum muatan lokal di sekolah dasar, memastikan generasi muda tidak hanya mendengar tapi juga memahami nyanyian leluhur mereka.

Tak berhenti di situ, riset ini juga menggarisbawahi pentingnya perencanaan kolektif dan sinergi antaraktor budaya. Album Rijoq Sempekat yang dirilis pada 2009–2010 menjadi tonggak penting kolaborasi antara seniman, komunitas, dan pemerintah daerah. Bahkan Festival Dahau Sendawar dan lomba rijoq tingkat kabupaten kini menjadi arena penting untuk regenerasi dan reaktualisasi musik ini.

Yang menarik, rijoq tidak menjadi relik masa lalu. Ia mengakomodasi pesan-pesan baru: dari kisah cinta hingga himbauan bahaya narkoba. Bahkan unsur religius mulai masuk dalam syair, menandakan keterbukaan rijoq terhadap perkembangan nilai sosial tanpa kehilangan akarnya. Perpaduan antara melodi lokal, alat musik tradisional, dan lirik kontekstual inilah yang membuat rijoq bertahan bukan sebagai museum suara, tapi sebagai organisme budaya yang terus bernapas.

Penelitian ini menjadi bukti bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan inovasi, dan bahwa pelestarian tidak harus berarti pengawetan yang kaku. Dalam nyanyian rijoq, penyanyi daerah bukan hanya pelantun, tetapi juga penjaga memori, arsitek suara, dan juru bicara nilai-nilai komunitas. Mereka menjaga agar suara leluhur tetap mengalun di tengah dunia yang berubah, bukan sekadar agar didengar, tapi agar tetap dimengerti.