Lexora.id – Tidak semua fiksi horor ditulis untuk sekadar menakut-nakuti. Ada yang justru memperluas batas logika, mengaburkan jarak antara dunia kasatmata dan yang tak terlihat. Novel Peter karya Risa Saraswati berada tepat di titik simpang itu. Ia bukan hanya fiksi supranatural biasa, melainkan fiksi mistik yang menyeret pembacanya menelusuri keyakinan, emosi spiritual, dan batas antara hidup dan kematian.
Penelitian terbaru oleh Novia Violina Ayuningtias, Dahri Dahlan, dan Eka Yusriansyah dari Universitas Mulawarman memperlihatkan betapa kompleks dan reflektifnya struktur mistik dalam novel ini, menjadikannya tak hanya sebagai karya sastra populer, tetapi juga sebagai medan spiritual dan naratif yang menantang.
Penelitian bertajuk Mistik Dalam Novel Peter Karya Risa Saraswati ini dipublikasikan dalam Journal of Language and Literature Studies, Volume 9, Nomor 2, April 2025, dan menyibak empat bentuk utama mistik yang ditemukan dalam novel: mistik sebagai pengalaman gaib yang diyakini, sebab-akibat yang tak rasional, mitos, serta meditasi atau latihan spiritual. Risa Saraswati, sebagai pengarang dan karakter utama, tidak hanya menuliskan cerita—ia mengalami, menjembatani, dan menjadikan dirinya medium bagi sosok yang sudah tiada, yaitu hantu Peter van Gils.
Risa dikenal sebagai figur dengan kemampuan indigo, dan novel Peter ditulis bukan semata hasil imajinasi, tetapi dari hasil ‘interaksi langsung’ dengan roh seorang anak Belanda yang diyakini tewas tragis di masa pendudukan Jepang. Peter tidak hadir sebagai tokoh fiksi yang dihidupkan oleh narasi; ia hadir sebagai subjek yang berbicara, mengarahkan, bahkan memengaruhi hidup dan pilihan sang penulis.
Salah satu bentuk mistik yang paling menonjol dalam novel adalah relasi gaib yang diyakini: Risa bersahabat dengan Peter sejak kecil, berinteraksi layaknya teman sebaya, dan mengalami berbagai pengaruh emosional darinya. Peter bisa marah, menyendiri, memerintah, bahkan menulari rasa suka terhadap warna tertentu. Mistik di sini bukan lagi sekadar “hantu menampakkan diri”, melainkan “hantu membentuk kepribadian manusia”.
Lebih lanjut, aspek sebab-akibat yang tidak rasional juga dibahas secara mendalam oleh para peneliti. Risa tidak hanya melihat hantu; ia menyukai warna oranye karena Peter, menyenangi sekolah karena Peter, bahkan merasa kehilangan orientasi personal saat Peter menghilang. Gangguan ini tidak dilihat sebagai efek psikologis semata, tetapi sebagai bentuk intervensi spiritual—sesuatu yang sulit diterima nalar, namun nyata dalam narasi dan pengalaman batin.
Sementara itu, kehadiran mitos ditegaskan lewat keyakinan Risa dan Peter bahwa roh tidak akan tenang sebelum “urusan di dunia selesai”. Peter menunggu sang ibu menjemputnya agar bisa “kembali bersama ke Tuhan.” Gagasan ini tidak bisa dibuktikan secara empiris, tetapi menjadi kerangka eksistensial dalam narasi dan keyakinan tokoh. Ia menghidupkan kembali cara berpikir tradisional masyarakat kita tentang gentayangan, janji, dan batas waktu di dunia roh.
Namun bentuk mistik paling kompleks justru hadir dalam bagian meditasi. Penelitian ini menggarisbawahi bagaimana Risa Saraswati masuk ke alam bawah sadar—bukan lewat ritual keagamaan, tetapi lewat kekuatan batin dan koneksi spiritual—untuk melihat kehidupan masa lalu Peter. Ia tidak menciptakan cerita, ia mengikuti jejak Peter melalui “penglihatan batin”. Dengan teknik naratif ini, novel tidak lagi menjadi teks imajinatif, tetapi dokumen transpersonal, di mana sang penulis menjadi penyaksi dari kisah orang lain yang sudah mati.
Menariknya, penelitian ini juga mencatat dua jenis mistik yang tidak hadir dalam novel, yakni mistik berbasis subsistem agama dan ritual upacara keagamaan. Tidak ada semedi, tidak ada mantra, tidak ada doa atau puasa untuk membuka dunia roh. Yang ada adalah hubungan murni, pribadi, dan emosional antara Risa dan Peter—yang justru memperkuat dimensi horor mistik novel ini: kehadiran yang tak bisa dikendalikan, tapi juga tak bisa diabaikan.
Peter bukan hanya novel horor. Ia adalah testimoni spiritual, ekspresi kebatinan, dan catatan atas bagaimana manusia modern masih berurusan dengan dunia yang tak tampak, melalui perasaan, memori, dan narasi. Penelitian ini membuktikan bahwa karya fiksi populer bisa dibaca tidak sekadar dari sisi hiburan, tetapi juga sebagai refleksi atas kondisi spiritual manusia kontemporer—yang terombang-ambing di antara realitas digital dan suara-suara dari masa lalu.


