Tak Harus Dimiliki, Cinta dalam Novel Boy Candra Jadi Cermin Kebutuhan Manusia

lexora.id By lexora.id
4 Min Read

Lexora.id – Novel Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi karya Boy Candra bukan hanya melukiskan romansa dalam suasana sendu, tetapi juga menggambarkan kompleksitas psikologi tokohnya secara mendalam. Hal itu menjadi sorotan utama dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Bastra edisi Juli 2025 oleh tim akademisi Universitas Halu Oleo, yaitu Elga Ayuditya Yahdiyani, Sumiman Udu, dan Sri Suryana Dinar.

Melalui pendekatan psikologi humanistik Abraham Maslow, penelitian ini mengungkap bahwa tokoh-tokoh dalam novel mengalami perjalanan batin yang mencerminkan hierarki kebutuhan manusia—dari yang paling dasar hingga pencapaian aktualisasi diri.

Empat tokoh utama yang dikaji—Kevin, Nara, Juned, dan Tiara—diperlihatkan sebagai sosok-sosok yang sedang dalam proses memenuhi kebutuhan fisik seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dan istirahat. Namun lebih dari itu, kebutuhan psikologis seperti rasa aman, kasih sayang, pengakuan, dan aktualisasi diri menjadi elemen penggerak utama konflik dan dinamika cerita. Kevin, misalnya, adalah sosok yang pendiam, cerdas, dan penuh perhitungan.

Ia menahan perasaannya terhadap Nara karena takut kehilangan ikatan persahabatan. Penundaan ini menjadikan Kevin sebagai gambaran manusia yang belum mencapai keberanian aktualisasi diri, meski seluruh kebutuhan dasarnya telah terpenuhi.

Sebaliknya, Nara digambarkan sebagai pribadi yang ceria namun rapuh, mudah jatuh cinta dan patah hati. Ia merasa aman dalam kedekatannya dengan Kevin, tetapi memilih Juned yang membuatnya terluka. Ketika Juned meninggal, Nara baru menyadari nilai keberadaan Kevin dalam hidupnya. Situasi ini mencerminkan bagaimana kebutuhan akan rasa aman dan cinta saling tarik-menarik dalam menentukan keputusan emosional.

Juned sendiri adalah karakter yang dinamis, menggunakan kegiatan ekstrem seperti panjat tebing untuk menutupi luka batin dari masa lalunya. Ia menemukan makna hidup melalui tantangan fisik, sebuah bentuk pencarian terhadap penghargaan diri sekaligus aktualisasi personal.

Tokoh Tiara hadir sebagai pengimbang yang rasional namun penuh harapan. Ia menjadi representasi individu yang berani menyatakan cinta, dua kali, kepada Kevin. Ketika ia ditolak secara emosional, Tiara memilih untuk mundur, bukan karena menyerah, tetapi karena sadar akan harga dirinya. Keputusan Tiara ini dinilai oleh peneliti sebagai puncak dari proses aktualisasi diri—keberanian untuk mencintai, sekaligus keberanian untuk menerima penolakan dan melindungi integritas pribadi.

Penelitian ini juga menyoroti bagaimana kebutuhan manusia saling berjenjang dan saling terkait. Maslow menyatakan bahwa kebutuhan fisiologis harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang mampu mengejar kebutuhan lain seperti cinta, penghargaan, atau aktualisasi diri.

Tokoh-tokoh dalam novel ini digambarkan melewati setiap lapisan tersebut secara utuh. Misalnya, Kevin yang tinggal sendiri dan memiliki kehidupan stabil mampu memberikan perlindungan emosional bagi Nara. Namun ia justru terjebak dalam rasa takut yang membuatnya gagal menyatakan cinta. Ironisnya, Tiara yang lebih emosional justru mampu mengekspresikan dirinya secara utuh.

Boy Candra, menurut para peneliti, berhasil merangkai narasi yang tampak sederhana menjadi cerminan konflik psikologis yang dekat dengan realitas pembaca, terutama remaja. Kesadaran bahwa cinta tidak selalu harus dimiliki, bahwa pengorbanan bisa menjadi bentuk cinta paling tinggi, serta bahwa keberanian menyatakan perasaan adalah proses menjadi diri sendiri—semuanya menjadikan novel ini kaya akan makna edukatif dan reflektif.

Lebih lanjut, penelitian ini juga merekomendasikan penggunaan novel ini dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP dan SMA. Dengan menelaah kebutuhan tokoh menggunakan teori Maslow, siswa dapat mengembangkan pemahaman mendalam tentang karakter dan konflik, serta mengasah empati dan kesadaran psikologis. Dalam konteks Kurikulum Merdeka yang menekankan penguatan nilai-nilai karakter dan analisis sastra berbasis nilai kehidupan, karya Boy Candra ini menjadi sumber ajar yang relevan.

Pada akhirnya, Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi adalah novel yang tidak hanya membahas soal cinta remaja, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar memahami dirinya melalui relasi dengan orang lain. Sebagaimana hujan yang jatuh ke bumi tanpa takut hancur, para tokohnya diajak untuk berani menjalani rasa, luka, dan pengakuan—sebagai jalan menuju versi terbaik dari diri sendiri.