Lexora.id – Lagu Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan karya Bernadya bukan hanya menyentuh pendengar dengan melodi dan liriknya yang reflektif, tetapi kini juga menjadi objek kajian sosiolinguistik dalam dunia akademik. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Bastra edisi Juli 2025 oleh tim peneliti Universitas Veteran Bangun Nusantara mengungkap bahwa kekuatan lagu ini terletak pada penggunaan gaya bahasa yang membungkus nilai sosial dan psikologis anak muda masa kini—khususnya remaja—dalam bentuk yang sederhana namun sarat makna.
Lagu berdurasi tiga menit ini dianalisis oleh Pardyatmoko, Anggun Cindy Armabella, Hayuvia Hanida Purista, Sri Wahono Saptomo, dan Devi Septiana. Mereka memetakan empat gaya bahasa utama yang dominan dalam lirik lagu tersebut: metafora, repetisi, personifikasi, dan simbolisme. Kata “untungnya” yang berulang—terdengar ringan namun sarat ironi—menjadi penekanan emosional yang membungkus seluruh narasi lagu. Bukan sebagai penanda kemujuran semata, tetapi sebagai penegasan bahwa bertahan dalam kehidupan adalah keputusan yang penuh kesadaran.
Metafora seperti “bumi masih berputar”, “kupakai akal sehat”, dan “semua yang tinggal juga yang hilang pasti ada makna” digunakan Bernadya untuk menyampaikan pesan bahwa dalam hidup, bahkan dalam hal-hal yang tampak sia-sia atau menyakitkan, tetap ada pelajaran dan peluang bertumbuh. Lirik semacam ini menurut para peneliti bukan sekadar ekspresi pribadi, tapi bisa dibaca sebagai representasi keresahan kolektif: tentang kegagalan, penerimaan, dan ketabahan yang diam-diam dimiliki oleh generasi muda hari ini.
Kajian ini juga menunjukkan bagaimana struktur bahasa dalam lagu menjadi sarana komunikasi yang sangat efektif untuk memengaruhi persepsi sosial. Penggunaan personifikasi—seperti menggambarkan kebaikan sebagai sesuatu yang bisa “datang”—dan simbolisme atas kehilangan yang dianggap sebagai fase bermakna dalam hidup, menciptakan ruang reflektif yang luas bagi pendengar. Para peneliti menyebut bahwa gaya puitis seperti ini memperkuat efek emotif dan mendorong keterhubungan personal dengan isi lagu.
Selain itu, lagu ini diposisikan sebagai sarana penyadaran kultural yang relevan dengan kehidupan remaja. Dalam era digital yang dipenuhi tekanan sosial dan ketidakpastian, lirik seperti “ku tak pilih menyerah” atau “kupilih yang lebih susah” menjadi mantra kecil yang membangun ketahanan batin. Lagu ini menjadi medium komunikasi emosional yang menyampaikan harapan, mendorong penerimaan takdir, dan membujuk pendengarnya untuk terus melangkah—meski pelan, meski tidak pasti.
Bernadya, lewat diksi yang sederhana, menghadirkan bahasa harian sebagai cermin dinamika batin remaja. Hal itu, menurut para peneliti, justru memperkuat pesan sosialnya. Tidak melulu melalui slogan motivasi atau ajakan retoris, tetapi lewat kesadaran lirih bahwa dalam hidup tak selalu harus menang, yang penting terus bergerak.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan adalah bentuk sastra populer yang tidak hanya menggugah emosi, tapi juga mampu menyuarakan dinamika sosial kontemporer dengan cara yang halus namun menggigit. Lirik-liriknya menjadi bentuk bahasa perlawanan yang tidak gaduh, namun kuat dalam menyuarakan harapan, luka, dan keteguhan anak muda menghadapi hidup yang tidak selalu ramah.


