Lexora.id – Sebuah studi eksperimental terbaru dari Norwegia mengungkap bahwa kegiatan menulis musik—bukan hanya membaca atau memainkan—dapat secara signifikan meningkatkan pemahaman notasi musik dasar di kalangan siswa instrumen usia 8–11 tahun.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cogent Arts & Humanities edisi Juni 2025 ini menunjukkan bahwa banyak anak yang bisa membaca notasi musik belum tentu mampu menuliskannya dengan benar, dan sebaliknya, menulis musik ternyata dapat memperdalam pemahaman struktur notasi.
“Menulis membantu anak-anak menyadari konsep-konsep dasar seperti tinggi nada, panjang not, hingga struktur baris birama. Ini tidak selalu terlihat saat mereka hanya membaca atau memainkan musik,” tulis peneliti utama Katarzyna Julia Leikvoll dari University of Bergen, Norwegia, dalam artikelnya berjudul How the use of music writing can enhance the understanding of a musical notation system among instrumental pupils.
Antara Membaca dan Menulis Musik
Studi ini menguji 18 siswa dari sekolah musik ekstrakurikuler yang telah belajar instrumen (piano dan brass) selama 1–4 tahun. Mereka mengikuti sesi eksperimen selama empat minggu dengan fokus pada penulisan notasi musik: mulai dari menyalin melodi, menulis nada tunggal, hingga menciptakan komposisi pendek. Para guru yang memandu juga diwawancarai untuk menilai efektivitas pendekatan ini.
Hasilnya menunjukkan perbedaan mencolok: sebelum eksperimen, sebagian besar siswa bisa membaca notasi tapi gagal menuliskannya dengan benar. Setelah empat sesi menulis, kemampuan mereka menuliskan nada seperti C dan F, serta menyalin ritme sederhana, meningkat tajam.
Kejutan bagi Guru: Sadar Ada Celah
Guru yang terlibat dalam studi ini mengaku mendapatkan “momen realisasi”. Banyak murid ternyata belum memahami struktur dasar notasi—misalnya bahwa letak kepala not menentukan tinggi nada. Seorang guru mengaku terkejut karena muridnya sering menempatkan kepala not secara acak di garis paranada.
“Saya kira mereka sudah paham karena bisa memainkan lagu dengan benar. Tapi saat diminta menulis not E, mereka meletakkannya di tempat yang salah,” ujar salah satu guru.
Menulis sebagai Alat Asesmen dan Motivasi
Studi ini juga menunjukkan bahwa kegiatan menulis dapat menjadi alat asesmen efektif bagi guru untuk mengevaluasi tingkat pemahaman murid terhadap notasi. Anak-anak yang diberi kesempatan menciptakan lagu sendiri dan menuliskannya menunjukkan peningkatan motivasi belajar. Bahkan beberapa murid menyatakan ingin membawakan lagu ciptaan mereka sendiri dalam resital.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Menulis notasi musik dianggap melelahkan oleh sebagian siswa, terutama yang lebih muda dengan kemampuan motorik halus yang belum berkembang penuh. Para guru juga mengakui keterbatasan waktu pelajaran sebagai hambatan untuk rutin memasukkan kegiatan menulis dalam kurikulum.
Kesimpulan dan Implikasi Pendidikan
Leikvoll menegaskan bahwa membaca dan menulis musik, seperti halnya literasi bahasa, adalah dua keterampilan yang saling melengkapi namun tidak otomatis berpindah satu sama lain. “Kemampuan membaca musik tidak menjamin kemampuan menulis. Namun menulis justru bisa memperkuat pemahaman simbolik dan sintaksis dalam musik,” katanya.
Penelitian ini membuka peluang baru dalam pendidikan musik, khususnya dalam pembelajaran anak-anak. Dengan melibatkan siswa dalam menulis dan mencipta, guru tidak hanya menumbuhkan kemampuan teknis, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap bahasa musik itu sendiri.


