Lexora.id – Sebuah penelitian terbaru mengusulkan agar naskah kuno Salasilah Negeri Kutai Kerta Negara (sNKKN) dijadikan rujukan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), khususnya dalam menanamkan nilai-nilai multikulturalisme. Naskah ini dinilai mencerminkan praktik hidup berdampingan lintas etnis dan agama yang telah berlangsung ratusan tahun di Kalimantan Timur.
Penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal Cogent Arts & Humanities pada 21 Juni 2025 dan ditulis oleh Agus Iswanto bersama tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Indonesia. Mereka menelaah isi naskah sNKKN sebagai warisan budaya Kerajaan Kutai Kartanegara yang menyimpan narasi sejarah perjumpaan antarbudaya, termasuk etnis Jawa, Melayu, Bugis, Banjar, dan Tionghoa.
“Naskah sNKKN menampilkan semangat keterbukaan, penghormatan terhadap leluhur, dan persahabatan antarbudaya yang sudah lama dijalankan masyarakat Kutai,” tulis para peneliti dalam artikel berjudul Cultural Encounters in the History of East Kalimantan as Model for Diversity in Indonesia New Capital Today.
Menjaga Identitas Lokal di Tengah Perjumpaan Budaya
Penelitian ini menyebut bahwa sejak abad ke-13, masyarakat Kutai telah terlibat dalam pertemuan budaya tanpa kehilangan jati diri. Raja-raja Kutai disebut pernah belajar tata negara dari Majapahit namun tetap mempertahankan adat sendiri. Dalam pertemuan besar adat yang tercatat dalam naskah, hadir pula perwakilan dari 23 wilayah berbeda termasuk dari Tionghoa, Sambas, dan Brunei.
Naskah ini bahkan menyebut peran perempuan dalam kepemimpinan dan memuat sistem etika kerajaan yang menunjukkan keterbukaan terhadap perbedaan. Penggunaan bahasa Melayu, Jawa, Banjar, hingga Arab memperlihatkan dinamika kosmopolitan Kutai di masa lalu.
Model Kebudayaan untuk Kota Masa Depan
Para peneliti menyatakan bahwa pembangunan IKN semestinya tidak hanya berfokus pada aspek fisik, melainkan juga pada fondasi sosial budaya. “sNKKN adalah ruang simbolik yang merekam nilai koeksistensi budaya dan dapat menjadi rujukan dalam merancang kebijakan inklusif di IKN,” kata Agus Iswanto.
Penelitian ini juga mengingatkan pemerintah agar tidak mengulangi pola marginalisasi budaya lokal sebagaimana yang dialami masyarakat Betawi di Jakarta. Justru dengan menempatkan warisan budaya seperti sNKKN sebagai sumber inspirasi, IKN dapat dibangun sebagai kota yang menghargai keberagaman sekaligus menjaga harmoni.
Pelajaran dari Sejarah Kutai
Naskah sNKKN yang disalin oleh Khatib Muhammad Tahir pada 1849 di Kampung Padiri itu bukan sekadar silsilah kerajaan, tetapi juga memuat narasi legitimasi kekuasaan, sistem sosial, nilai diplomasi budaya, serta kisah-kisah perjumpaan damai lintas kelompok. Ia menjadi bukti bahwa perbedaan tidak harus melahirkan konflik, melainkan bisa menjadi dasar kekuatan sosial dan identitas bersama.
Dengan menjadikan sNKKN sebagai rujukan, pembangunan IKN bisa membawa pesan kuat: bahwa masa depan Indonesia bisa dibangun tanpa menghapus masa lalunya.


